Masalah perbankan di Jepang kembali menjadi perhatian. Kali ini penyebabnya bukan karena bank yang bangkrut, melainkan runtuhnya Zentoshin, salah satu pemroses pembayaran di Jepang yang banyak digunakan restoran dan toko kecil.
Sekilas mungkin terdengar seperti masalah perusahaan keuangan biasa. Namun ternyata dampaknya bisa merembet ke banyak pelaku usaha yang setiap hari bergantung pada pembayaran kartu kredit.
Kebangkrutan Zentoshin Menimbulkan Kerugian Besar
Menurut Teikoku Databank, Zentoshin mengajukan kebangkrutan ke Pengadilan Distrik Osaka pada 6 Juli 2026 dengan total kewajiban sekitar 115,2 miliar yen atau sekitar 7,8 triliun rupiah. Nilai ini menjadikannya salah satu kebangkrutan perusahaan terbesar di Jepang sepanjang tahun 2026.
Dampaknya langsung dirasakan sektor keuangan. Sejumlah bank regional, termasuk Towa Bank dan San ju San Financial Group, mengumumkan akan mencatat kerugian karena pinjaman yang mereka berikan kepada Zentoshin terancam tidak kembali.
Korban Kebangkrutan Zentoshin Bukan Hanya Bank
Hal yang lebih mengkhawatirkan, korban kebangkrutan Zentoshin bukan hanya lembaga keuangan. Perusahaan ini melayani sekitar 200.000 restoran dan toko ritel di Jepang. Banyak di antaranya merupakan usaha kecil yang mengandalkan pencairan pembayaran kartu kredit untuk menjalankan operasional harian.
Saat sistem pembayaran berhenti dan dana hasil penjualan belum diterima, arus kas usaha ikut terganggu. Bahkan merchant yang masih menggunakan terminal milik Zentoshin tidak dapat menerima pembayaran non tunai sebelum berpindah ke sistem lain.
Teikoku Databank juga memperingatkan bahwa kondisi ini bisa memicu kebangkrutan lanjutan di kalangan restoran dan toko kecil.
Mengapa Hal Ini Perlu Diperhatikan?
Usaha kecil merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Jepang, termasuk pekerja asing. Kalau semakin banyak restoran atau toko kecil mengalami kesulitan keuangan, bukan tidak mungkin kebutuhan tenaga kerja ikut terdampak.
Memang belum ada tanda bahwa kondisi ini akan memengaruhi pasar kerja secara luas, tetapi kasus Zentoshin menunjukkan betapa pentingnya peran perusahaan pembayaran dalam menjaga roda ekonomi tetap berjalan.
Sementara itu, Financial Services Agency (FSA) menyatakan masih terus memantau perkembangan kasus ini. Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa kondisi perbankan Jepang berada dalam situasi yang membahayakan.
Kasus Zentoshin menjadi pengingat bahwa masalah perbankan di Jepang tidak selalu dimulai dari bank. Kadang, runtuhnya satu perusahaan pendukung sistem pembayaran saja sudah cukup menimbulkan efek domino yang dirasakan bank, pelaku usaha kecil, hingga berpotensi memengaruhi penyerapan tenaga kerja di masa depan
Kredit Gambar: Towfiqu barbhuiya/Unsplash










