Berdasarkan data Februari 2026, jumlah kebangkrutan perusahaan Jepang sedang naik. Menurut informasi terkini, angka kebangkrutan mencapai 851 kasus dengan besaran utang minimal 10 juta Yen.
Angka tersebut adalah yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir sekaligus menjadi kasus peningkatan besar dibanding tahun lalu. Peningkatan angka perusahaan bangkrut di Jepang sebenarnya sudah diprediksi, tetapi banyak yang kaget karena jumlahnya lebih banyak dari dugaan awal.
Jumlah yang banyak untungnya diimbangi dengan kecilnya nilai utang perusahaan yang bangkrut. Penurunan ini menunjukkan perusahaan yang bangkrut adalah usaha skala kecil dan menengah. Kalau yang jatuh adalah perusahaan besar, efeknya terhadap ekonomi Jepang pasti lebih besar!
Sekitar 80% kebangkrutan terjadi pada perusahaan dengan utang di bawah 100 juta Yen. Ini menjadi sinyal bahwa bisnis kecil menengah Jepang sedang dalam tekanan ekonomi paling berat. Pengusaha menengah dan kecil lebih rawan kena gelombang masalah ekonomi.
Kenaikan jumlah kebangkrutan dipicu oleh beberapa faktor ekonomi, seperti biaya tenaga kerja yang meningkat, inflasi, dan kenaikan biaya operasional yang sulit ditanggung perusahaan kecil. Selain itu, beberapa kasus ada perusahaan yang tidak mampu mengoptimalkan operasi akibat kekurangan pegawai.
Beberapa sektor bisnis tertentu mengalami peningkatan kebangkrutan lebih besar dibandingkan dengan sektor lain. Sektor bisnis yang paling kena imbas adalah industri jasa dan ritel. Dua kategori bisnis ini adalah yang paling sensitif terhadap perubahan biaya dan daya beli konsumen.
Saat ada inflasi dan penurunan daya beli masyarakat, industri jasa dan ritel akan langsung terkena imbasnya. Sekarang kondisi ekonomi memang sedang goyah secara global, jadi tidak aneh jika usaha kecil dan menengah industri jasa dan ritel banyak yang tumbang.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi pada bisnis kecil di Jepang masih berlanjut meskipun ekonomi nasional mulai menunjukkan pemulihan di beberapa sektor. Pemerintah harus mulai memperhatikan perusahaan kecil dan usaha menengah agar ekonomi tetap sehat.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan tenaga kerja. Inflasi dan kebangkrutan karena krisis tenaga kerja itu sangat serius. Jika masalah perusahaan bangkrut Februari 2026 di Jepang tidak dihadapi serius, ke depannya pasti makin parah.
Semoga setelah ditangani secara serius oleh pemerintah, jumlah kebangkrutan perusahaan Jepang tersebut menurun. Kalau menurun dan banyak perusahaan sukses, WNI yang mau kerja di Jepang pasti dapat kesempatan lebih banyak!
Kredit Gambar: Melinda Gimpel/Unsplash





