🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Beneran Jumlah Wisatawan di Jepang Turun Pertengahan 2026? Wajib Baca Penjelasannya!

Beneran Jumlah Wisatawan di Jepang Turun Pertengahan 2026? Wajib Baca Penjelasannya!

Berdasarkan proyeksi data, jumlah wisatawan di Jepang turun 5,5% pada April 2026 jika dibandingkan bulan sama tahun lalu. Menurut Japan National Tourism Organization (JNTO), ini adalah penurunan pertama dalam tiga bulan terakhir.

Tahun lalu, jumlah pendatang wisata di Jepang mencapai 3,6 juta orang. Namun sekarang angkanya makin sedikit. Jumlah pengunjung yang menurun kebanyakan dari negara Timur Tengah termasuk Israel, negara Teluk Persia dan daereah sekitarnya. Penurunan wisatawan dari area tersebut mencapai angka 22.300 orang atau sekitar 21,4% dari tahun lalu.

Wisatawan asal China turun 56,8% menjadi 330.700 orang. Khusus wisatawan dari China, penurunan ini sudah terjadi sejak 5 bulan lalu saat masalah politik Jepang-China memanas.

WNA di Jepang yang berasal dari China sebenarnya masih ada yang di Jepang. Namun, mereka datang bukan dengan tujuan wisata melainkan kerja dan bisnis. Kalau sekedar kunjungan wisata, China sekarang prioritaskan Korea Selatan dan negara-negara ASEAN.

Jumlah wisatawan di Jepang turun juga terjadi pada pengunjung dari Eropa. Penurunan terjadi karena ada hari besar Libur Paskah tahun ini yang jatuh pada bulan April 2026. Hal ini mempengaruhi pengunjung yang memundurkan kedatangannya dari bulan April ke bulan Maret dan Mei 2026.

Untuk negara yang wisatawannya malah makin tinggi, negara Korea Selatan (878.600 orang), Taiwan (643.500 orang) dan Vietnam (76.000 orang) memecahkan rekor kunjungan di bulan April 2026 lalu.

Ini menunjukan kalau masalah penurunan kunjungan bukan karena melemahnya potensi wisata Jepang. Melainkan kondisi global yang pengaruhi keputusan wisatawan untuk pergi ke luar negeri.

Dalam konferensi pers pada Rabu, Kepala Japan Tourism Agency, Shigeki Murata, menegaskan bahwa pemerintah akan menjalankan promosi strategis kedepannya. Strategi baru ini ditujukan untuk tingkatkan wisatawan dari lebih banyak negara dan wilayah. Jadi, negara yang belum banyak datangkan wisatawan ke Jepang akan jadi incaran utama.

Langkah ini dilakukan demi mencapai target 60 juta wisatawan asing pada tahun 2030, meskipun ada perubahan kondisi eksternal seperti kenaikan harga tiket pesawat, kondisi ekonomi dan tensi politik, acuan tujuan tersebut masih dikejar!

Mudah-mudahan kejadian jumlah wisatawan di Jepang turun ini bisa diperbaiki. Jika kunjungan ke Jepang tinggi, lapangan pekerjaan yang berkutat seputar turisme juga naik. Kalau industri lagi bagus, para pekerja WNI bisa masuk untuk isi lowongan tersebut!

Kredit Gambar: EMANUELE Ricciardi/Unsplash

Laporan Angka Korban Heatstroke Saat Kerja di Jepang 2025 Sudah Keluar! Banyakah Angkanya?

Laporan Angka Korban Heatstroke Saat Kerja di Jepang 2025 Sudah Keluar! Banyakah Angkanya?

Hasil research tahun 2025 seputar heatstroke saat kerja di Jepang sudah rilis. Penelitian ini melihat kasus yang heatstroke yang terjadi di Jepang dalam konteks dunia kerja. Hasilnya dari penelitian ini cukup bikin shock!

Berapa Data Korban Heatstroke Saat Kerja di Jepang Tahun 2025?

Masalahnya Jepang kembali mencatat rekor baru soal heatstroke di tempat kerja. Pada 2025, jumlah korbannya mencapai 1.803 kasus atau naik 546 kasus dibanding tahun sebelumnya. Walau sudah ada peringatan dan aturan ketat kerja di kondisi panas ekstrim, angka korban tetap bertambah dari tahun 2024!

Walaupun korban kena heatstoke naik, angka yang menjadi korban jiwa untungnya turun. Di 2024 ada 31 orang meninggal akibat heatstroke saat kerja. Kalau di 2025, angkanya turun jadi 19 orang. Pemerintah Jepang menduga penurunan ini berhubungan dengan aturan baru pencegahan heatstroke yang mulai diterapkan sejak Juni 2025.

Cuaca Ekstrem Masih Jadi Penyebab Utama Heatstroke Saat Kerja di Jepang

Kondisi panas di Jepang memang beda dengan Indonesia. Suhu di atas 35°C ditambah kelembapan tinggi membuat tubuh sulit mendinginkan diri. Walaupun suhu gak sepanas di area tropis Indonesia, rasa gerah yang gak hilang terasa lebih parah di Jepang.

Masalah panas ekstrim Jepang ini mencapai puncak biasanya di bulan Juli dan Agustus. Pada Juli 2025 lalu, ada 718 kasus heatstroke. Ini adalah angka kasus paling tinggi selama 2025. Setelah itu disusul Agustus sebanyak 583 kasus untuk ranking terparah kedua.

Walaupun keamanan kerja di Jepang sudah ditingkatkan, masih banyak pekerja yang jadi korban. Sektor manufaktur jadi bidang dengan korban terbanyak yaitu 365 kasus, lalu konstruksi 292 kasus dan transportasi 220 kasus.

Dikabarkan tahun sampai 2030 nanti musim panas Jepang sekarang makin berat. Kalau tidak mau ada heatstroke saat kerja di Jepang makin parah, banyak perubahan harus lebih banyak dilakukan.

Angka korban meninggal memang berkurang, tapi pelaku industri yang pingsan dan masuk rumah sakit akibat heatstroke masih tinggi. Semoga ke depan ada solusi lebih baiknya!

Budaya Kerja Jepang Jadi Faktor Sulitnya Tangani Heatstroke

Banyak diskusi mengangkat topik budaya kerja Jepang. Banyak pekerja Jepang tetap memaksakan diri bekerja walau sudah mulai pusing atau mual. Sebagian takut dianggap merepotkan tim kalau terlalu sering istirahat.

Selain itu, sekitar 52% korban berusia di atas 50 tahun. Jepang yang kekurangan tenaga kerja memang makin bergantung pada pekerja usia lanjut yang lebih rentan terkena heatstroke.

Hal seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi. Perusahaan Jepang harus mulai memberi warning bagi pekerja yang malu-malu untuk mengamankan diri. Kerugian asuransi kalau kena heatstroke itu gak murah. Makanya, lebih baik buat para pekerja patuh dan tidak memaksakan diri di saat panas ekstrim Jepang!

Jepang Mulai Pakai Teknologi Anti Heatstroke

Selain mengubah budaya kerja, penggunaan teknologi anti heatstroke juga memmbantu. Mulai dari rompi pendingin, sensor pemantau suhu tubuh, sistem AI WBGT, sampai drone pengawas area kerja.

Beberapa perusahaan logistik bahkan mulai mengurangi pengiriman siang hari saat suhu terlalu tinggi. Namun, masalah terbesar tetap ada di biaya dan implementasi. Banyak perusahaan kecil belum mampu membeli teknologi mahal tersebut.

Heatstroke di Jepang bukan sekadar masalah musim panas biasa saat ini. Masalah seperti ini sudah berubah jadi isu besar terkait perubahan iklim, budaya kerja, dan krisis tenaga kerja Jepang sendiri.

Kalau kamu mau kerja di Jepang, pahami kondisi panas di sana. Kalau paham masalahnya, kamu bisa adaptasi untuk hindari heatstroke saat kerja di Jepang!

Kredit Gambar: Gabriel Santos/Unsplash

Benarkah Umur ke Jepang Makin Muda Makin Banyak Benefitnya? Ini Ternyata Benar!

Benarkah Umur ke Jepang Makin Muda Makin Banyak Benefitnya? Ini Ternyata Benar!

Saat umur ke Jepang masih muda, masa depan orang tersebut makin terbuka. Bayangkan kamu berangkat magang di Jepang pada umur 19 tahun. Kamu luangkan kontrak magang 3 tahun dan pulang ke Indonesia sekitar umur 22-23 tahun.

Di umur ini, kamu sudah dapat pengalaman kerja di Jepang, pendapatan dua digit selama di Jepang dan juga kemampuan bahasa Jepang. Semua ini bisa jadi senjata kamu untuk memilih karir lebih baik di masa muda.

Bayangkan dengan orang yang baru lulus kuliah. di umur 22-23 tahun. Mereka baru lulus dan butuh pengalaman kerja pada umumnya sebelum bisa melamar kerja sesuai keinginan. Kalau kamu yang sudah magang di Jepang sejak awal, kamu tidak perlu lagi cari pengalam kerja lagi bukan?

Bagi yang menabung saat magang di Jepang, kamu sudah bawa pulang banyak modal juga. Jadi, kamu bisa buka usaha sendiri jika mau. Kalau dibandingkan orang yang kerja di Indonesia sendiri, modal besar untuk usaha tidak akan terkumpul hanya dengan kerja 3 tahun seperti di Jepang. Tentu kamu lebih unggul kalau mau jadi pengusaha muda dari kerja di Jepang!

Dari dua penjelasan skenario tadi, kamu sudah bisa bayangkan benefit kerja Jepang umur muda! Benefit seperti ini makin bernilai kalau kamu melakukannya sejak umur muda.

Kalau ke Jepang pada umur 24-25 tahun, benefitnya tidak sebaik anak muda yang sudah ke Jepang. Berangkat umur 25 berarti pulang pada umur 28. Di umur ini kamu masih untung dari segi pendapatan. Namun, bagi yang ingin melanjutkan ke arah pendidikan pasti sudah berat.

Umur 22-23 selesai dari Jepang masih aman untuk kuliah. Namun, kalau sudah umur 28 lanjut pendidikan pasti terbatas. Paling yang masih terbuka adalah kuliah swasta dan UT. Kalau tidak mau opsi kuliah hilang, lebih baik ambil jalur magang atau kerja ke Jepang pada umur muda.

Syarat umur kerja di Jepang adalah 18 tahun. Jadi, kalau kamu sudah umur segitu dan siap ke Jepang dari segi kemampuan, kesiapan dokumen, mental dan fisik, langsung ambil keputusan saja!

Bagi yang butuh arahan untuk jalur kerja ke Jepang, PT Saitama Juara Mendunia menyediakan layanan pendidikan untuk persiapan kamu.  Bagi yang butuh pelatihan bahasa Jepang, mental dan pengetahuan seputar dunia kerja Jepang, silahkan daftar di LPK Saitama dan Ayaka Jossei Center sebagai anak perusahaan PT Saitama Juara Mendunia!

Yuk, bersama kejar mimpi umur ke Jepang muda dan sukses bersama PT Saitama!

Kredit Gambar: masahiro miyagi/Unsplash

Beda Kerja Kaigo di Panti Lansia Jepang dan Personal, Mana yang Lebih Cocok Buat Kamu?

Beda Kerja Kaigo di Panti Lansia Jepang dan Personal, Mana yang Lebih Cocok Buat Kamu?

Pernah gak kamu mikir soal kerja kaigo di Jepang itu sebenarnya seperti apa? Banyak yang mengira semua pekerjaan kaigo itu sama. Padahal, kenyataannya tidak begitu!

Ada dua jalur utama yang cukup berbeda, yaitu bekerja di panti lansia Jepang dan menjadi personal kaigo. Keduanya punya sistem, beban kerja, dan tantangan yang tidak sama.

Perbedaan dalam Proses Rekrut

Kalau kamu masuk lewat program magang atau agensi, biasanya kamu akan ditempatkan di panti lansia. Sistemnya sudah jelas dan kamu bekerja di bawah lembaga.

Namun, untuk personal kaigo, prosesnya langsung dari keluarga. Mereka mencari sendiri kandidat yang cocok dan menentukan apakah kamu layak atau tidak. Artinya, kamu harus bisa menunjukkan kemampuan sejak awal.

Beban Kerja Kaigo Sangat Berbeda Tergantung Jenisnya

Sekilas, kerja di panti lansia terlihat lebih berat karena jumlah lansia lebih banyak. Namun, di sana kamu bekerja dalam tim. Tugas dibagi, jadi tidak semua kamu kerjakan sendiri.

Berbeda dengan personal kaigo, kamu bekerja sendiri dan harus siap menghadapi berbagai kondisi. Di sinilah banyak orang mulai merasa kerja kaigo ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Syarat Kerja yang Lebih Ketat

Untuk kerja di panti lansia Jepang, pemula masih punya peluang. Biasanya cukup dengan pelatihan dasar dan kemauan belajar.

Namun, personal kaigo punya standar lebih tinggi. Sertifikasi lanjutan dan kemampuan bahasa Jepang minimal N2 sering jadi syarat utama. Karena kamu berinteraksi langsung dengan keluarga, komunikasi harus benar-benar lancar.

Gaji dan Fasilitas yang Berbeda

Dari segi penghasilan, personal kaigo memang lebih tinggi. Bisa mencapai sekitar Rp30 juta per bulan, bahkan sudah termasuk fasilitas hidup.

Namun, kerja di panti lansia Jepang lebih stabil. Gaji pemula biasanya di kisaran Rp13 juta sampai Rp19 juta per bulan dengan sistem kerja yang lebih terstruktur. Jadi, ada kontras jelas antara kenyamanan kerja dan besarnya tanggung jawab tergantung jenis kerja kaigo yang kamu ambil.

Jadi, Mana yang Lebih Cocok?

Dari sini terlihat kalau pilihan kerja kaigo tidak bisa disamaratakan. Kalau kamu masih pemula, bekerja di panti lansia Jepang bisa jadi langkah awal yang lebih aman. Namun, kalau sudah punya pengalaman, personal kaigo bisa jadi peluang yang lebih besar.

Makanya, pahami dulu perbedaannya sebelum memilih. Karena dalam kerja kaigo, kesiapan diri itu jauh lebih penting daripada sekadar memilih gaji besar.

Kredit Gambar: Age Cymru/Unsplash

Apakah Mentalitas Gen Z Indonesia Cocok Buat Kerja ke Jepang? Bisa Dong!

Apakah Mentalitas Gen Z Indonesia Cocok Buat Kerja ke Jepang? Bisa Dong!

Banyak orang sekarang suka judge mentalitas Gen Z yang susah kerja di Indonesia. Jadi, gak aneh kalau muncul pendapat Gen Z gak cocok buat kerja di Jepang. Apakah pendapat ini benar?

Pada kenyataannya, banyak kok Gen Z yang sekarang sudah kerja ke Jepang. Pada tahun 2026 ini, Gen Z sudah berumur antara 14-29 tahun. Mereka yang ada di kisaran umur 20 ke atas, banyak yang sudah bisa kerja ke Jepang. Ini bukti kalau Gen Z bisa cocok kerja di sana.

Bukannya Gen Z suka pindah kerja? Kalau kontrak panjang di Jepang emang cocok? Apalagi aturan kerja di sana lebih ketat. Emang Gen Z bisa bertahan di kondisi ini?

Gen Z sebetulnya mau memberikan usaha lebih kalau ada timbalan yang pasti. Mereka lebih kritis dan perhitungan. Jadi para Gen Z yang berhasil kerja ke Jepang sudah merasakan bagaimana benefit kerja di sana.

Keunggulan Gen Z di lapangan kerja adalah bisa menunjukan dedikasi maksimal selama mereka mendapatkan keuntungan. Banyak Gen Z yang dinilai giat dan menjadi percontohan pekerja baik di Jepang. Jadi, jangan remehkan generasi muda Indonesia ini!

Walaupun budaya kerja di Jepang lebih ketat, mereka berikan gaji lumayan bagi WNI. Nilai tukar Yen lebih tinggi dari Indonesia. Jadi, kalau bisa kerja kontrak 3 tahun magang saja, sudah banyak Gen Z yang bisa beli tanah atau bangun rumah!

Gen Z yang gagak ke Jepang lebih banyak terjadi karena salah paham saat proses awal. Mereka berfikir hanya enaknya buat ke Jepang tanpa sadar bahwa prosesnya berat. Akhirnya, mereka merasa tertipu dan kena mental. Di sinilah banyak Gen Z yang gagal.

Untuk Gen Z yang sudah belajar sisi positif dan negatif kerja ke Jepang, mereka lebih siap dalam proses. Golongan Gen Z inilah yang lebih siap hadapi tantangan proses yang panjang dan terkadang terasa berat. Namun, karena mereka lebih fokus, Gen Z yang ini tetap berhasil ke Jepang!

Jadi sudah jelas, masalah terletak bukan pada mentalitas, melainkan kesiapan dan kemauan para Gen Z. Kalau para Gen Z sudah siap hadapi tantangan, mereka tetap bisa kok kerja ke Jepang!

Bagi kamu yang merasa masih memiliki mentalitas Gen Z yang lemah, ini artinya kamu perlu persiapan khusus. Membuat mentalitas Gen Z sejalan dengan kebutuhan kerja di Jepang adalah kuncinya. Mari belajar dulu di LPK Saitama dan ikut jalur IM Japan agar kamu para Gen Z bisa lebih siap kerja di Jepang!

Kredit Gambar: Wyron A/Unsplash

Produksi Pabrik Jepang Turun di Awal 2026, Apa Masalahnya?

Produksi Pabrik Jepang Turun di Awal 2026, Apa Masalahnya?

Kamu pernah ngerasa hidup lagi nggak stabil, kadang naik lalu tiba-tiba turun? Ternyata kondisi ini juga sedang dialami Jepang. Di bulan Maret, produksi pabrik Jepang turun sekitar 0,5%. Padahal sebelumnya banyak yang optimis angkanya akan naik.

Nah, yang bikin situasinya makin rumit, penyebabnya bukan hanya dari dalam negeri. Namun juga dipengaruhi masalah ekonomi global, khususnya konflik di Iran.

Dampak Konflik Global ke Industri Jepang

Kebayang gak, perang di Timur Tengah bisa berpengaruh ke pabrik di Jepang? Faktanya memang begitu.

Konflik membuat harga energi naik, sementara Jepang masih sangat bergantung pada impor minyak. Ini jadi salah satu factor pendukung produktivitas Jepang yang justru berubah jadi tekanan.

Beberapa sektor langsung terdampak. Produksi mesin industri menurun, begitu juga produk minyak dan batu bara. Ini bahkan terjadi dua bulan berturut-turut. Artinya, ini bukan sekadar gangguan sementara.

Ada Sektor yang Masih Bertahan

Di tengah kondisi ini, ternyata ada sektor yang masih kuat. Permintaan semiconductor untuk teknologi AI justru meningkat.

Nah, ini jadi penyeimbang saat produksi pabrik Jepang turun di sektor lain. Kondisinya sekarang seperti tarik ulur. Di satu sisi, industri lama yang bergantung energi melemah. Namun di sisi lain, teknologi baru seperti AI justru mendorong pertumbuhan.

Pemerintah dan Kebijakan yang Serba Sulit

Pemerintah Jepang mencoba mengantisipasi dengan menjaga pasokan energi dan mencari jalur alternatif. Namun, distribusi energi masih belum sepenuhnya stabil. Ini membuat tekanan ke industri tetap terasa.

Di sisi lain, Bank of Japan juga menghadapi dilema. Suku bunga ditahan di sekitar 0,75% karena harus menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi Konsumen yang Masih Rapuh

Walaupun sempat ada peningkatan penjualan retail, daya beli masyarakat masih belum kuat. Harga energi yang terus naik membuat pengeluaran meningkat. Ini juga ikut mempengaruhi kondisi industri secara keseluruhan.

Jadi, Apa yang Bisa Dipahami?

Kalau dilihat, ini bukan sekadar soal produksi pabrik Jepang turun. Ini gambaran bagaimana dunia sekarang saling terhubung.

Konflik di satu wilayah bisa berdampak langsung ke negara lain. Jepang sekarang ada di posisi penting. Di satu sisi masih bergantung pada sistem lama. Namun di sisi lain mulai bertumpu pada teknologi baru.

Makanya, pertanyaannya sekarang sederhana. Di tengah kondisi seperti ini, menurut kamu siapa yang akan lebih kuat? Industri lama, atau teknologi masa depan seperti AI?

Kredit Gambar: Alex Simpson/Unsplash

Industri Cosplay di Jepang Berkembang Pesat Dari Tahun ke Tahun, Apa Alasannya?

Industri Cosplay di Jepang Berkembang Pesat Dari Tahun ke Tahun, Apa Alasannya?

Pernah gak kamu sadar kalau industri cosppay di Jepang sekarang sudah jauh berkembang dibanding beberapa tahun lalu? Dulu mungkin terlihat niche, namun sekarang sudah jadi bagian dari industri kreatif yang serius.

Setelah pandemi, popularitas anime global memang melonjak. Hal ini membuat banyak orang semakin familiar dengan cosplay. Namun, kondisi sekarang tidak hanya soal booming saja, tapi sudah masuk tahap lebih profesional dan kompetitif.

Permintaan Masih Tinggi, Tapi Persaingan Ikut Naik

Pesanan kostum dari luar negeri memang masih ada. Karakter populer seperti Frieren dari Frieren: Beyond Journey’s End dan Gojo Satoru dari Jujutsu Kaisen tetap jadi favorit. Namun, sekarang banyak produsen dari luar Jepang juga ikut masuk pasar.

Hal ini membuat pelaku di industri cosppay di Jepang harus menjaga kualitas agar tetap unggul. Standar produksi Jepang yang detail masih jadi kelebihan utama.

Namun, untuk pekerja baru, ini bisa jadi tantangan bekerja di Jepang karena tuntutan kualitasnya tinggi.

Cosplay Sudah Masuk Industri Profesional

Sekarang cosplay tidak hanya soal hobi. Banyak event besar, kompetisi internasional, hingga kolaborasi brand yang melibatkan cosplayer profesional.

Hal ini membuka peluang kerja baru. Namun, di sisi lain juga memunculkan masalah adaptasi kerja di Jepang, terutama bagi pendatang yang belum terbiasa dengan ritme kerja kreatif yang cepat.

Tidak hanya skill, kamu juga dituntut paham tren dan budaya pop yang terus berubah.

Peluang Besar, Tapi Tidak Semudah yang Dibayangkan

Banyak yang melihat industri ini menjanjikan. Nilai pasar cosplay global memang terus meningkat, dan Jepang masih jadi pusat kualitas.

Namun, untuk bisa masuk ke dalamnya, kamu harus siap dengan tantangan bekerja di Jepang yang tidak ringan. Mulai dari tekanan kerja, standar tinggi, hingga persaingan global.

Selain itu, masalah adaptasi kerja di Jepang juga tetap jadi faktor penting, terutama bagi pekerja asing yang baru masuk industri ini.

Jadi, Masih Layak Dikejar?

Bekerja dalam industri cosplay di Jepang cukup unik. Kamu bisa coba mulai dari kerja di startup ataupun manufaktur pakaian cosplay. Industri seperti ini mirip seperti yang ada di Indonesia untuk kebutuhan baju custom.

Bekerja di industri ini seru tapi ukurannya masih tidak sebesar industri tekstil secara umum. Walaupun begitu, pekerja sangat dicari pada industri ini juga. Kamu mau join industri cosplay di Jepang?

Kredit Gambar: /Flickr

Hasil Pengetatan Kerja ke Jepang Disambut Positif, Emang Apa Hasilnya?

Hasil Pengetatan Kerja ke Jepang Disambut Positif, Emang Apa Hasilnya?

Sudah beberapa tahun terakhir banyak perubahan pengetatan kerja ke Jepang. Mulai dari peningkatan biaya urus visa, syarat bahasa yang ditinggikan dan juga harus menunjukan bukti banyak dokumen sertifikat tambahan. Semua ini membuat banyak WNA yang mau kerja ke Jepang kecewa.

Walaupun begitu, banyak pihak sudah survey dan menemukan pengetatan kerja ke Jepang menunjukan hasil positif. Perubahan kebijakan pengawasan imigrasi telah mengurus 17.352 orang yang dideportasi ataupun meninggalkan Jepang melalui perintah resmi.

Angka tersebut membuktikan kalau banyak imigran bermasalah di Jepang yang sebelumnya tidak terurus. Mereka awalnya mau kerja di Jepang tapi karena syarat yang terlalu longgar akhirnya malah menjadi imigran bermasalah karena tidak bisa adaptasi dengan baik.

Kedepannya pemerintah Jepang juga akan meningkatkan pengawasan terhadap pelanggaran imigrasi, termasuk overstay dan aktivitas ilegal oleh warga asing. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga ketertiban sistem imigrasi sekaligus merespons meningkatnya jumlah pekerja asing di Jepang.

Jepang memang butuh banyak pekerja asing, tapi mereka menghindari memasukan individu bermasalah. Makanya proses kerja ke Jepang banyak diperbaiki akhir-akhir ini. Jepang ingin pekerja asing yang serius mau berkontribusi di Jepang dan beradaptasi dengan budaya sana saja.

Walaupun begitu banyak yang memandang perubahan kebijakan yang lebih ketat mencerminkan dilema Jepang. Di satu sisi negara membutuhkan tenaga kerja asing untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, tetapi di sisi lain tetap ingin mempertahankan kontrol ketat. Hasilnya, jumlah tenaga kerja yang masih tidak akan maksimal untuk menangani masalah krisis tenaga kerja di sana.

Bagi kamu yang mau kerja ke sana, siapkan diri kamu! Sekarang pengetatan kerja ke Jepang banyak yang diberlakukan dan kamu harus bisa menghadapinya. Jangan hapus mimpi kamu ke Jepang selama bisa memenuhi berbagai syarat dan tantangan baru tersebut!

Kredit Gambar: Chris Bahr/Unsplash

Apakah Bangunan Printer 3D di Jepang Akan Menjadi Hal Umum? Keren Bisa Bangun Rumah Cepat!

Apakah Bangunan Printer 3D di Jepang Akan Menjadi Hal Umum? Keren Bisa Bangun Rumah Cepat!

Berita soal bangunan printer 3D di Jepang sempat viral. Hal ini berkat pembangunan ulang Stasiun Hatsushima di Prefektur Wakayama. Proyek stasiun ini bisa selesai dalam waktu 6 jam saja di lokasi. Waktunya bisa cepat karena setiap bangunan sudah dicetak per parts-nya oleh mesin printer 3D. Setiap parts bangunan hanya perlu diangkut dan di rangkai pada lokasi, jadi kerjanya lebih cepat!

Nih, ada video-nya kalau mau lihat proses pembangunan Stasiun Hatsushima ini!

Proyek Bangunan Printer 3D di Jepang yang Berhasil

Sebelum keberhasilan proyek stasiun printer 3D di Prefektur Wakayama, proses pembangunan dengan mesin printer 3D hanyalah konsep belaka. Contoh saja prototype bernama 3dpod Pavilion yang dibangun oleh Obayashi Corporation pada tahun 2023. Kalau mau cek, silahkan datang ke area Technical Research Institute perusahaan ini di Kiyose, Tokyo.

Di tahun 2023 bangunan rumah sederhana oleh perusahaan startup Jepang, Serendix juga dibangun. Mereka membangun dengan manfaatkan teknologi konstruksi printer 3D untuk proses beton dan semen. Sedangkan para pekerja konstruksi hanya perlu memasang pondasi serta rangka beja bangunan. Kombinasi kinerja tersebut mampu menghasilkan rumah dengan konsep Barnacle atau Fujitsubo dalam waktu 44 jam saja!

Untuk bangunan  printer 3D yang proyeknya berhasil dibangun setelah Stasiun Hatsushima, ada satu bangunan yang unik yaitu Lib Earth House model B. Bangunan ini dibuat oleh perusahaan Lib Work.Co pada tahun Oktober 2025 lalu. Perusahaan ini membangun konsep bangunan yang sebagian besar bahannya adalah tanah yang diolah khusus dan dibentuk oleh printer 3D. Bangunan ini sekarang bisa kamu kunjungi di Yamaga, Prefektur Kumamto.

Apakah ke Depannya Akan Lebih Banyak Bangunan Printer 3D di Jepang?

Semua bangunan tersebut menandakan bangunan printer 3D di Jepang sudah mulai diimplementasikan. Di masa mendatang akan lebih banyak bangunan seperti ini! Konsep bangunan dengan mesin printer 3D akan membantu situasi kurang tenaga kerja di Jepang.

Menggunakan mesin ini, proses kerja tidak lagi membutuhkan banyak orang. Namun, bangunan yang dibuat dengan teknologi ini masih kurang fleksibel. Hanya arsitek dan teknik sipil tertentu saja yang bisa desain bangunan menggunakan teknologi terbaru ini. Ke depannya, jika makin banyak ahli bangunan memahami konsep bangunan printer 3D, pasti Jepang akan tumbuh dari segi teknologi konstruksi!

Semoga pada tahun-tahun berikutnya penggunaan bangunan printer 3D di Jepang menjadi lebih umum. Kalau bisa menggunakan robot, industri konstruksi di Jepang yang kekurangan tenaga kerja akan terbantu. Penggunakan teknologi printer 3D ini bukan menggantikan pekerja konstruksi, tapi dipastikan membantu produktivitas kebutuhan bangunan di Jepang!

Kredit Gambar: Wikipedia

Indonesia Akan Perkuat Kerja Sama Pengadaan Tenaga Kerja Perikanan Jepang, Siapa yang Mau Ikut?

Indonesia Akan Perkuat Kerja Sama Pengadaan Tenaga Kerja Perikanan Jepang, Siapa yang Mau Ikut?

Pemerintah Indonesia mengakui akan perbanyak pengadaan tenaga kerja perikanan Jepang. Info ini makin kuat dengan bukti bentuk kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Japan International Cooperation Agency.

Kerja sama ini menguntungkan dua belah pihak karena WNI yang bekerja di Jepang dapat upgrade skill. Sedangkan pihak Jepang dapat terbantu memenuhi tenaga kerja periakanan mereka.

Kerja Sama Demi Kebutuhan Indonesia dan Jepang

Pemberitaan kerja sama ini bermula dari kunjungan ahli JICA ke Jakarta pada 30 Maret 2026, yang sekaligus menjadi titik awal pengembangan proyek strategis antara kedua pihak. Perwakilan Indonesia dan Jepang sudah berdiskusi panjang dan akhirnya menghasilkan bentuk kerja sama ini.

Indonesia menyatakan kesiapan menjadi mitra yang andal. Pihak pemerintah berjanji akan menyediakan tenaga kerja terampil dan tersertifikasi sesuai kebutuhan industri. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Rekrut Calon Tenaga Kerja Perikanan untuk ke Jepang Akan Dilakukan

Besar kemungkinan kedepannya akan diadakan seleksi bagi para peserta yang mau mengisi job perikanan Jepang. Seleksi inilah yang nantinya menyaring individu terampil, tersertifikasi dan teruji sebelum diarahkan bekerja ke Jepang.

Diharapkan dengan kerja sama Indonesia Jepang ini, relasi kedua negara makin dekat soal tenaga kerja. Banyak WNI bermimpi bisa kerja ke Jepang. Sedangkan Jepang memang butuh tenaga kerja untuk mengisi berbagai posisi di industri-nya. Kesempatan kerja bagi WNI bisa lebih besar jika relasi dua negara dekat. Selain itu, relasi ini bisa membuka pintu program-program ke Jepang yang terjamin oleh kedua negara ini!

WNI kerja perikanan di Jepang tidak sekedar cari uang nantinya. Diharapkan program ini membantu meningkatkan kapasitas SDM Indonesia. Standar tenaga kerja di Jepang sangat berbeda dengan Indonesia. Makanya, WNI yang mau kerja serius di Jepang wajib punya sertifikat bahasa Jepang dan juga sertifikat skill perikanan. Dua aspek inilah yang membedakan pekerja Indonesia dan Jepang.

Kalau di Indonesia, bekerja di perikanan gak harus pakai sertifikat. Selama bisa kerja, ya silahkan ambil job tersebut. Kalau tenaga kerja perikanan Jepang, mereka harus mampu menunjukan skill dan kemampuan dalam bentuk sertifikat yang sudah terstandar. Hanya mereka yang sudah teruji bisa bekerja di sektor perikanan tersebut.

Kedepannya bagi yang mau kerja perikanan di Jepang, kamu bisa ikut program kerja sama dari Indonesia Jepang ini. Kerja sama ini katanya mencakup penyediaan fasilitas pembelajaran modern, kehadiran tenaga ahli sebagai pelatih dan juga pengajar bahasa Jepang. Nanti ada juga pelatihan yang dilakukan langsung di Jepang.

Program kerja sama akan berlangsung selama tiga tahun dan dilaksanakan di institusi pendidikan dan pelatihan perikanan di Indonesia yang terpilih. Contoh lokasi yang dijadikan acuan adalah Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta dan Politeknik Kelautan dan Perikanan Karwang.

Jangan Lewatkan Kesempatan Kerja ke Jepang!

Terbukannya pintu baru ini adalah kesempatan bagi banyak WNI muda. Sebelumnya, kerja sama seperti Program IM Japan sudah membantu kirim orang Indonesia ke Jepang sejak 1993. Sekarang ada program baru lagi yang spesifik untuk kelautan dan perikanan. Semoga kerja sama soal tenaga kerja perikanan Jepang ini menghasilkan untuk bagi lebih banyak WNI!

Kredit Gambar: Yanhao Fang/Unsplash