🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Laporan Angka Korban Heatstroke Saat Kerja di Jepang 2025 Sudah Keluar! Banyakah Angkanya?

Laporan Angka Korban Heatstroke Saat Kerja di Jepang 2025 Sudah Keluar! Banyakah Angkanya?

Hasil research tahun 2025 seputar heatstroke saat kerja di Jepang sudah rilis. Penelitian ini melihat kasus yang heatstroke yang terjadi di Jepang dalam konteks dunia kerja. Hasilnya dari penelitian ini cukup bikin shock!

Berapa Data Korban Heatstroke Saat Kerja di Jepang Tahun 2025?

Masalahnya Jepang kembali mencatat rekor baru soal heatstroke di tempat kerja. Pada 2025, jumlah korbannya mencapai 1.803 kasus atau naik 546 kasus dibanding tahun sebelumnya. Walau sudah ada peringatan dan aturan ketat kerja di kondisi panas ekstrim, angka korban tetap bertambah dari tahun 2024!

Walaupun korban kena heatstoke naik, angka yang menjadi korban jiwa untungnya turun. Di 2024 ada 31 orang meninggal akibat heatstroke saat kerja. Kalau di 2025, angkanya turun jadi 19 orang. Pemerintah Jepang menduga penurunan ini berhubungan dengan aturan baru pencegahan heatstroke yang mulai diterapkan sejak Juni 2025.

Cuaca Ekstrem Masih Jadi Penyebab Utama Heatstroke Saat Kerja di Jepang

Kondisi panas di Jepang memang beda dengan Indonesia. Suhu di atas 35°C ditambah kelembapan tinggi membuat tubuh sulit mendinginkan diri. Walaupun suhu gak sepanas di area tropis Indonesia, rasa gerah yang gak hilang terasa lebih parah di Jepang.

Masalah panas ekstrim Jepang ini mencapai puncak biasanya di bulan Juli dan Agustus. Pada Juli 2025 lalu, ada 718 kasus heatstroke. Ini adalah angka kasus paling tinggi selama 2025. Setelah itu disusul Agustus sebanyak 583 kasus untuk ranking terparah kedua.

Walaupun keamanan kerja di Jepang sudah ditingkatkan, masih banyak pekerja yang jadi korban. Sektor manufaktur jadi bidang dengan korban terbanyak yaitu 365 kasus, lalu konstruksi 292 kasus dan transportasi 220 kasus.

Dikabarkan tahun sampai 2030 nanti musim panas Jepang sekarang makin berat. Kalau tidak mau ada heatstroke saat kerja di Jepang makin parah, banyak perubahan harus lebih banyak dilakukan.

Angka korban meninggal memang berkurang, tapi pelaku industri yang pingsan dan masuk rumah sakit akibat heatstroke masih tinggi. Semoga ke depan ada solusi lebih baiknya!

Budaya Kerja Jepang Jadi Faktor Sulitnya Tangani Heatstroke

Banyak diskusi mengangkat topik budaya kerja Jepang. Banyak pekerja Jepang tetap memaksakan diri bekerja walau sudah mulai pusing atau mual. Sebagian takut dianggap merepotkan tim kalau terlalu sering istirahat.

Selain itu, sekitar 52% korban berusia di atas 50 tahun. Jepang yang kekurangan tenaga kerja memang makin bergantung pada pekerja usia lanjut yang lebih rentan terkena heatstroke.

Hal seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi. Perusahaan Jepang harus mulai memberi warning bagi pekerja yang malu-malu untuk mengamankan diri. Kerugian asuransi kalau kena heatstroke itu gak murah. Makanya, lebih baik buat para pekerja patuh dan tidak memaksakan diri di saat panas ekstrim Jepang!

Jepang Mulai Pakai Teknologi Anti Heatstroke

Selain mengubah budaya kerja, penggunaan teknologi anti heatstroke juga memmbantu. Mulai dari rompi pendingin, sensor pemantau suhu tubuh, sistem AI WBGT, sampai drone pengawas area kerja.

Beberapa perusahaan logistik bahkan mulai mengurangi pengiriman siang hari saat suhu terlalu tinggi. Namun, masalah terbesar tetap ada di biaya dan implementasi. Banyak perusahaan kecil belum mampu membeli teknologi mahal tersebut.

Heatstroke di Jepang bukan sekadar masalah musim panas biasa saat ini. Masalah seperti ini sudah berubah jadi isu besar terkait perubahan iklim, budaya kerja, dan krisis tenaga kerja Jepang sendiri.

Kalau kamu mau kerja di Jepang, pahami kondisi panas di sana. Kalau paham masalahnya, kamu bisa adaptasi untuk hindari heatstroke saat kerja di Jepang!

Kredit Gambar: Gabriel Santos/Unsplash