🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Ternyata Banyak WNA Buka Usaha Kuliner di Jepang dan Sukses, Apakah WNI Juga Bisa?

Ternyata Banyak WNA Buka Usaha Kuliner di Jepang dan Sukses, Apakah WNI Juga Bisa?

Pernah melihat kios kebab Turki, restoran India atau restoran Thailand ketika berjalan di Jepang? Fenomena WNA di Jepang buka usaha kuliner memang bukan sesuatu yang aneh.

Jepang justru memiliki pasar makanan yang semakin beragam. Lalu, apakah WNI yang sudah bekerja di Jepang juga bisa membuka usaha kuliner di Jepang? Jawabannya bisa, selama memenuhi aturan usaha dan izin tinggal yang berlaku.

Kenapa WNA Membawa Kuliner Negara Asalnya?

Ada alasan sederhana mengapa orang asing tertarik menjual makanan dari negara asalnya. Mereka sudah memiliki pengetahuan tentang resep, bahan, cara memasak dan budaya makanan tersebut.

Selain itu, makanan asing menawarkan pengalaman baru bagi konsumen Jepang. Menurut J-Net21 dari Small and Medium Enterprise Agency, restoran etnik seperti Thailand, India, Indonesia, Vietnam dan Turki memang menjadi bagian dari perkembangan bisnis kuliner etnik di Jepang.

Jadi, membawa makanan khas Indonesia ke Jepang juga bukan ide yang mustahil.

Jepang Punya Pasar Kuliner yang Luas dan Beragam

Aneka ragam budaya kuliner di Jepang semakin mudah ditemukan, terutama di kota besar dan kawasan dengan banyak penduduk maupun wisatawan internasional.

Menariknya, restoran etnik tidak hanya menyasar warga dari negara asalnya. Konsumen Jepang yang penasaran dengan makanan asing juga menjadi pasar potensial.

Artinya, seorang WNI yang menjual nasi goreng, sate, rendang atau makanan Indonesia lainnya memiliki peluang untuk memperkenalkan makanan tersebut kepada pelanggan Jepang.

Namun peluang tidak berarti bisnis pasti berhasil. Konsep makanan, lokasi, harga dan kemampuan membaca selera pelanggan tetap menentukan.

Bagaimana Syarat Visa Membuka Usaha Kuliner Ini?

Bagi WNI yang ingin tinggal di Jepang dan menjalankan bisnis sendiri, salah satu status yang relevan adalah Business Manager.

Namun syaratnya tidak sederhana. Immigration Services Agency of Japan saat ini mencantumkan antara lain kebutuhan modal minimal ¥30 juta, selain persyaratan terkait pengelolaan usaha dan tenaga kerja.

Untuk restorannya sendiri, izin imigrasi bukan satu-satunya urusan. J-Net21 menjelaskan bahwa usaha restoran juga memerlukan izin usaha makanan serta penempatan food sanitation supervisor atau 食品衛生責任者.

Jadi, punya modal saja belum cukup. Kamu juga harus memenuhi aturan bisnis, imigrasi dan keamanan makanan.

Wah, Bisa Jadi Jalan Karier Setelah Kerja di Jepang, Nih!

Bagi WNI yang sedang bekerja di Jepang, fenomena ini menarik untuk dilihat sebagai salah satu kemungkinan masa depan.

Kamu mungkin berangkat ke Jepang untuk bekerja. Setelah memiliki pengalaman, memahami masyarakat Jepang dan menemukan peluang pasar, bukan tidak mungkin suatu hari ingin membangun usaha sendiri.

Namun jangan berpikir membuka restoran adalah jalan cepat untuk mendapatkan visa. Persyaratannya sekarang cukup berat dan perlu persiapan serius.

Yang menarik, makanan Indonesia punya sesuatu yang tidak dimiliki restoran Jepang biasa: cerita dan rasa dari negara asalnya.

Jadi, bekerja di Jepang tidak selalu berarti selamanya menjadi pekerja. Jika suatu hari memiliki modal, pengalaman dan kemampuan memenuhi aturan, usaha kuliner di Jepang juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk membangun masa depan.

Kredit Gambar: Michael Lee/Unsplash

Akankah Physical AI di Jepang Menjadi Solusi Krisis Pekerja di Sana? Ternyata Tidak Sesimpel Itu!

Akankah Physical AI di Jepang Menjadi Solusi Krisis Pekerja di Sana? Ternyata Tidak Sesimpel Itu!

Banyak pengamat mengatakan bahwa implementasi physical AI di Jepang bisa jadi solusi masalah krisis tenaga kerja di sana. Bagi kamu yang tidak tahu, physical AI adalah istilah penggunaan AI yang siap di dunia nyata. Jepang yang terkenal dengan teknologi robot-nya sudah siap mengembangkan physical AI.

Penggunaan Physical AI di Jepang

Robot yang sebelumnya hanya dibatasi algorithma tertentu, bisa lebih cerdas dengan implementasi AI di salamnya. Perusahaan besar seperti SoftBank, Toyota Motor dan Honda Motor bahkan sudah menggunakan teknologi physical AI dalam lini operasinya!

Penggunaan physical AI yang umum adalah robot pekerja dengan algorithma belajar otomatis. Untuk pekerjaan pabrik dengan lini sistematis, penggunaan robot ini terasa efisien. Selain itu benefit bekerja tanpa istirahat sangatlah membantu operasi banyak perusahaan!

Jepang sudah terkenal dengan pabrik-pabrik yang menggunakan robot. Hanya saja sekarang ada tambahan teknologi software AI yang menambah kecerdasan operasi robot. Jika dulu robot tidak bisa hadapi perubahan situasi dengan cepat tanpa control operator, jika ada AI, mereka cepat adaptasi.

Sayangnya, physical AI di Jepang masih kurang optimal untuk keperjaan yang butuh human touch. Contoh saja pelayan restoran. Walaupun ada restoran yang menggunakan robot, banyak customer yang tetap mencari pelayan manusia untuk tanya rekomendasi menu dan pelayanan lain.

Physical AI Bisa Membantu Masalah Kekurangan Pekerja Jepang

Walaupun sudah banyak digunakan perusahaan besar dan terbukti bermanfaat, masih banyak pihak skeptic soal physical AI. Masalahnya solusi krisis tenaga kerja di Jepang tidak mungkin diatasi dari satu cara. Masalah kekurangan pekerja di Jepang sangatlah kompleks.

Masalah utama yang sebabkan kekurangan tenaga kerja adalah penyusutan penduduk. Angka kelahiran yang turun selama 14 tahun berturut-turut menyebabkan jumlah penduduk produktif Jepang sangat kecil. Dari data sensus terakhir, penduduk produktif di Jepang hanya sekitar 59,6% dari total penduduk.

Jadi, kalau tidak terselesaikan masalah penyusutan penduduk, masalah kekurangan pekerja Jepang tetap akan berlanjut. Hanya saja, kekurangan pekerjaan akan terbantu jika ada pekerja otomatis dari physical AI di Jepang.

Pabrik yang tadinya butuh 10 orang bisa dioperasikan 3 orang saja menggunakan teknologi physical AI. Robot hanya cukup diberi input perintah dan bisa bergerak otomatis. Tiga orang yang bertugas itu cukup maintenance AI secara software, maintenance robot dan yang terakhir adalah yang control operasi dari awal sampai akhir.

Selain itu, pekerjaan-pekerjaan yang tidak disukai oleh masyarakat pada umunya bisa digantikan oleh physical AI. Contoh saja implementasi robot pengambil sampah otomatis dapat mengurangi kebutuhan pekerja pengambilan sampah. Jumlah warga Jepang yang mau ambil job ini makin kecil, jadi kalau bisa digantikan AI, mengapa tidak dicoba?

Jepang Berencana Kembangkan Physical AI untuk Pasar Global Juga

Walaupun bukan solusi krisis tenaga kerja di Jepang yang bisa menyembuhkan secara total, implementasi physical AI bisa membantu. Makanya pihak Pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) juga mengejar pengembangan physical AI ini. Pengembangan AI hingga bisa bekerja di dunia nyata tidak hanya akan membantu operasi pekerjaan di Jepang, tapi jadi senjata tersendiri di dunia global.

Jepang bisa bergerak pada dominasi hardware robot industri, tetapi tantangan muncul dalam integrasi software dan AI, terutama dibandingkan dengan perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan China. Kalau berhasil meningkatkan kemampuan physical AI dalam industrinya sendiri, kedepannya Jepang pasti lebih bisa bersaing dengan negara yang unggul dari segi software. Pihak Jepang bahkan menargetkan penguasaan 30% pasar global pada 2040 untuk physical AI.

Pandangan Para Investor Soal Industri Physical AI Jepang

Dari sisi investasi dan ekosistem, perusahaan seperti Woven Capital dan Global Brain menjadi penggerak utama pendanaan startup AI. Para investor memandang teknologi AI Jepang sedang menuju arah positif.

Direktur dari Woven Capital yaitu Ro Gupta menekankan bahwa kombinasi krisis tenaga kerja dan kekuatan robotik Jepang mempercepat adopsi AI fisik. Dia percaya kalau investasi di sektor AI sudah tepat melihat kondisi Jepang yang darurat butuh pekerja.

Bisa dibilang, implemenasi physical AI di Jepang sudah bukan lagi untuk keuntungan, tapi sudah jadi kebutuhan. Tanpa physical AI, banyak pekerjaan di Jepang yang tidak tercover. Walaupun sudah menyerap tenaga asing, kekurangan tenaga kerja tetap ada. Makanya, implementasi physical AI sudah harus dilakukan untuk berbagai sektor yang memungkinkan.

Pendapat ini diperkuat oleh Sho Yamanaka kepala perusahaan Salesforce Venture, yang merupakan peruashaan investasi besar. Ia berkata bahwa perusahaan yang melihat physical AI sebagai solusi atas keterbatasan tenaga kerja Jepang sudah mengambil langkah tepat.

Perusahaan Jepang tidak lagi tahap bereksperimen, tetapi sudah mengimplementasikan robot AI dalam operasi nyata, mulai dari manufaktur hingga inspeksi infrastruktur. Hal ini menunjukkan pergeseran dari tahap eksperimen ke implementasi massal.

Visi Kedepan Jepang dengan Physical Ai

Secara keseluruhan, kolaborasi antara korporasi besar, investor, dan startup membentuk ekosistem physical AI yang jelas di Jepang. Perusahaan seperti SoftBank, Toyota, dan Honda memanfaatkan AI untuk transformasi operasional, sementara investor mendorong inovasi dari sisi startup.

Nilai utama physical AI di Jepang kini terletak pada integrasi sistem dan deployment di dunia nyata. Banyak yang berpandangan Jepang telah memasuki fase baru di mana physical AI benar-benar siap digunakan secara luas.

Kedepannya, teknologi physical AI di Jepang akan menjadi hal umum. Kegunaannya akan lebih sebagai pendukung banyak solusi lain krisis tenaga kerja Jepang. Bayangkan solusi teknologi, menyerap tenaga kerja asing dan juga mendorong kelahiran di Jepang berjalan semua, pasti masa depan Jepang lebih baik!

Kredit Gambar: Possessed Photography/Unsplash

Jumlah Kebangkrutan Perusahaan Jepang Bulan Februari 2026 Naik Akibat Krisis Kekurangan Pekerja!

Jumlah Kebangkrutan Perusahaan Jepang Bulan Februari 2026 Naik Akibat Krisis Kekurangan Pekerja!

Berdasarkan data Februari 2026, jumlah kebangkrutan perusahaan Jepang sedang naik. Menurut informasi terkini, angka kebangkrutan mencapai 851 kasus dengan besaran utang minimal 10 juta Yen.

Angka tersebut adalah yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir sekaligus menjadi kasus peningkatan besar dibanding tahun lalu. Peningkatan angka perusahaan bangkrut di Jepang sebenarnya sudah diprediksi, tetapi banyak yang kaget karena jumlahnya lebih banyak dari dugaan awal.

Jumlah yang banyak untungnya diimbangi dengan kecilnya nilai utang perusahaan yang bangkrut. Penurunan ini menunjukkan perusahaan yang bangkrut adalah usaha skala kecil dan menengah. Kalau yang jatuh adalah perusahaan besar, efeknya terhadap ekonomi Jepang pasti lebih besar!

Sekitar 80% kebangkrutan terjadi pada perusahaan dengan utang di bawah 100 juta Yen. Ini menjadi sinyal bahwa bisnis kecil menengah Jepang sedang dalam tekanan ekonomi paling berat. Pengusaha menengah dan kecil lebih rawan kena gelombang masalah ekonomi.

Kenaikan jumlah kebangkrutan dipicu oleh beberapa faktor ekonomi, seperti biaya tenaga kerja yang meningkat, inflasi, dan kenaikan biaya operasional yang sulit ditanggung perusahaan kecil. Selain itu, beberapa kasus ada perusahaan yang tidak mampu mengoptimalkan operasi akibat kekurangan pegawai.

Beberapa sektor bisnis tertentu mengalami peningkatan kebangkrutan lebih besar dibandingkan dengan sektor lain.  Sektor bisnis yang paling kena imbas adalah industri jasa dan ritel. Dua kategori bisnis ini adalah yang paling sensitif terhadap perubahan biaya dan daya beli konsumen.

Saat ada inflasi dan penurunan daya beli masyarakat, industri jasa dan ritel akan langsung terkena imbasnya. Sekarang kondisi ekonomi memang sedang goyah secara global, jadi tidak aneh jika usaha kecil dan menengah industri jasa dan ritel banyak yang tumbang.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi pada bisnis kecil di Jepang masih berlanjut meskipun ekonomi nasional mulai menunjukkan pemulihan di beberapa sektor. Pemerintah harus mulai memperhatikan perusahaan kecil dan usaha menengah agar ekonomi tetap sehat.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan tenaga kerja. Inflasi dan kebangkrutan karena krisis tenaga kerja itu sangat serius. Jika masalah perusahaan bangkrut Februari 2026 di Jepang tidak dihadapi serius, ke depannya pasti makin parah.

Semoga setelah ditangani secara serius oleh pemerintah, jumlah kebangkrutan perusahaan Jepang tersebut menurun. Kalau menurun dan banyak perusahaan sukses, WNI yang mau kerja di Jepang pasti dapat kesempatan lebih banyak!

Kredit Gambar: Melinda Gimpel/Unsplash

Tekonologi AI Jepang Membantu Melatih Pekerja Asing, Wah Makin Gampang Nih Buat Kerja di Jepang!

Tekonologi AI Jepang Membantu Melatih Pekerja Asing, Wah Makin Gampang Nih Buat Kerja di Jepang!

Perkembangan teknologi AI Jepang kembali menarik perhatian. Salah satu inovasinya adalah layanan bernama Teachme AI, yang mulai digunakan perusahaan Jepang untuk membantu proses pelatihan pekerja asing.

Teknologi ini mampu membuat video tutorial berdurasi sekitar 30 menit hanya dalam waktu 15 menit. Video tersebut berisi instruksi kerja yang jelas dan dapat diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa.

Menggunakan fitur ini, para pekerja asing dapat menyesuaikan bahasa panduan sesuai yang mereka pahami sehingga proses penggunaan AI dalam pelatihan menjadi jauh lebih praktis.

Teachme AI dan Krisis Tenaga Kerja di Jepang

Munculnya teknologi AI Jepang seperti Teachme AI tidak lepas dari masalah kekurangan tenaga kerja di Jepang. Banyak perusahaan kesulitan menyediakan staf pelatih untuk membimbing pekerja baru, terutama pekerja asing yang jumlahnya terus meningkat.

Menggunakan bantuan AI, perusahaan dapat mempercepat pelatihan pekerja asing tanpa harus selalu bergantung pada instruktur manusia. Pekerja cukup menonton panduan video atau membuka aplikasi AI ketika membutuhkan penjelasan mengenai pekerjaan mereka.

Hal ini membuat proses pelatihan menjadi lebih efisien. Waktu belajar bisa lebih singkat, sementara pekerja dapat memahami tugas dengan lebih jelas melalui panduan visual dan terjemahan bahasa.

Membuka Peluang Kerja di Jepang bagi Pekerja Indonesia

Kehadiran teknologi ini juga membuka peluang baru bagi masyarakat Indonesia yang ingin kerja di Jepang. Selama ini, kemampuan bahasa Jepang sering menjadi tantangan utama bagi calon pekerja.

Namun dengan bantuan AI yang mampu menerjemahkan instruksi kerja dan menyediakan panduan visual, proses adaptasi menjadi lebih mudah. Teknologi ini berpotensi membantu pekerja memahami pekerjaan meskipun kemampuan bahasa mereka masih berkembang.

Jika penggunaan AI dalam pelatihan terus berkembang, proses pelatihan pekerja asing di Jepang akan semakin efisien. Hal ini dapat membuat kesempatan kerja di Jepang semakin terbuka bagi tenaga kerja dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hasil Snap Election di Jepang dan Efeknya ke Pekerja WNI, Apakah Makin Baik untuk Kerja di Jepang?

Hasil Snap Election di Jepang dan Efeknya ke Pekerja WNI, Apakah Makin Baik untuk Kerja di Jepang?

Pemilu dadakan alias snap election di Jepang akhirnya selesai, dan hasilnya benar-benar mengejutkan. Hasil snap election di Jepang menunjukkan kemenangan besar partai LDP yang mendukung PM Sanae Takaichi. Hal ini berpotensi mengubah arah kebijakan negara, termasuk soal ekonomi, pertahanan, dan pajak.

Detail Kemenangan LDP Pada Snap Election di Jepang

Dalam pemilu Dewan Perwakilan Jepang tanggal 8 Februari 2026, partai berkuasa Partai Demokrat Liberal (LDP) sukses meraih mayoritas dua pertiga kursi di parlemen. Artinya, mereka menguasai lebih dari 310 kursi dari total 465 kursi.

LDP juga tetap berkoalisi dengan Japan Innovation Party (JIP). Walau JIP tidak menambah banyak kursi, keberadaan mereka tetap penting sebagai mitra koalisi. Menariknya, JIP belum sepenuhnya masuk kabinet, tapi tetap diajak “bertanggung jawab bersama” oleh Takaichi.

Kedepannya, PM Sanae Takaichi akan lebih mudah menjalankan kebijakannya karena banyak Dewan Perwakilan Jepang yang akan mendukung. Pengajuan rencana PM baru ini soal kebijakan fiskal yang lebih agresif sampai penguatan pertahanan Jepang di tengah situasi global yang makin panas dipastikan akan terwujud.

Di sisi lain, oposisi justru kena pukulan telak. Aliansi oposisi baru yang digadang-gadang bakal jadi penantang serius malah kehilangan setengah kursinya. Banyak yang menilai pembentukan aliansi tersebut terlalu terburu-buru dan terkesan hanya demi strategi elektoral.

Apa pengaruh hasil pemilu ke WNI?

Buat WNI yang tinggal, bekerja, atau berencana ke Jepang, hasil ini penting. Pemerintah Jepang ke depan kemungkinan fokus pada stabilitas ekonomi, kebijakan pajak (termasuk rencana penangguhan pajak konsumsi makanan), serta keamanan nasional. Semua itu bisa berdampak ke dunia kerja, biaya hidup, dan kebijakan tenaga asing.

PM Sanae Takaichi bahkan sudah memiliki rancangan bagaimana menyerap tenaga kerja asing. Hasilnya, WNI yang mau kerja ke Jepang harus menyesuaikan diri. Terutama karena aturan yang akan berlaku ingin menyaring pekerja yang lebih baik dan mau beradaptasi di Jepang.

Aturan yang lebih ketat ini dipastikan berjalan beberapa tahun kedepan. Untuk persiapan, kamu harus benar-benar matang soal bahasa, kemampuan bekerja, sikap dan mental serta pemahaman budaya Jepang. Aturan dan kebiasaan di Jepang sebaiknya kamu pelajari juga agar lebih mudah kerja di sana.

Walaupun makin ketat berproses ke Jepang, bukan berarti kesempatan kerja ke sana sempit. Kamu bisa cek ada banyak program kerjasama Indonesia dan Jepang yang menyerap tenaga kerja.

Program IM Japan, program perawat G-to-G dari BP2MI, program beasiswa yang lanjut kerja dan bahkan program penyerapan pekerja teknis SSW official juga terbuka. Semua ini adalah tanda kalau Jepang masih cari pekerja Indonesia. Hanya saja, pihak Jepang lebih pilih-pilih, tidak semua orang bisa berangkat ke Jepang.

Singkatnya, hasil snap election di Jepang akan merubah banyak hal soal kerja di Jepang. Pengaruh hasil pemilu ke WNI yang pasti adalah aturan penyaringan. Namun, bisa saja kedepannya ada banyak aturan baru yang diajukan oleh PM Sanae Takaichi. Berkat hasil snap election di Jepang, aturan yang diajukan pasti terwujud karena para dewan mayoritas mendukung PM Jepang tersebut!

Kredit Gambar: Wikipedia

5 Masalah Pekerja Indonesia yang Buat Perusahaan Jepang Kecewa, Coba Hindari Biar Tidak Dipulangkan!

5 Masalah Pekerja Indonesia yang Buat Perusahaan Jepang Kecewa, Coba Hindari Biar Tidak Dipulangkan!

Hindari masalah pekerja Indonesia yang bisa menyebabkan dipulangkan! Sudah susah-susah ke Jepang, masak buat masalah sampai gak bisa kerja? Sayang, banget! Biaya belajar dan proses hingga bisa kerja ke Jepang itu mahal!

Ingin tahu masalah apa saja yang sering menjerat pekerja Indoensia di Jepang? Mari pelajari bersama di artikel ini agar kamu bisa hindari masalah pekerja Indonesia tersebut!

1. Memiliki Masalah dengan Dokumen Legal dan Visa

Masalah pertama yang menyebabkan pekerja Indonesia dipulangkan dari Jepang adalah soal legalitas. Biasanya berhubungan dengan dokumen dan visa. Mulai dari data yang tidak sesuai, pelanggaran izin tinggal, hingga bekerja di luar kontrak yang telah disepakati, bisa jadi penyebabnya.

Di Jepang, kamu gak bisa meremehkan masalah dokumen dan birokrasi. Perusahaan Jepang sangat patuh aturan, dan sedikit saja pelanggaran administratif bisa langsung berdampak besar pada status kerja seorang pekerja asing.

Kalau mau kerja aman di Jepang, pastkan ikuti juga aturan di sana dengan urus dokumen legal dan perpanjangan visa. Selama aman soal dokumen-dokumen ini, kamu dipastikan lancar kerja di Jepang!

2. Masalah Tidak Bisa Adaptasi Kerja di Jepang

Perbedaan budaya kerja sering menjadi sumber masalah pekerja Indonesia. Di Jepang, ketepatan waktu, kerja tim, dan kepatuhan pada prosedur adalah hal mutlak, bukan sekadar formalitas.

Kalau kamu gak bisa ikut model budaya kerja di sana, kamu bakal kena masalah terus. Kalau sampai terus-terusan kena warning perusahaan Jepang akibat sikap gak mau adaptasi, pasti kamu akan dipulangkan!

3. Tidak Improve Kemampuan Kerja dan Kemampuan Bahasa

Banyak pekerja merasa cukup dengan kemampuan awal saat berangkat, padahal perusahaan Jepang sangat menghargai progres. Tanpa peningkatan skill dan bahasa, risiko dipulangkan dari Jepang akan semakin besar.

Kamu wajib tahu kalau di Jepang ada proses naik level kerja. Kalau kamu sudah veteran tapi masih kerja seperti anak baru, pasti ada pandangan negatif yang tertuju pada kamu. Masak sudah satu tahun di Jepang tapi bicara sama bos masih terbata-bata, pasti ada yang salah!

Makanya, usajakan terus belajar dan perkuat kemampuan, baik bahasa Jepang ataupun skill kerja. Kamu nanti yang dapat benefitnya sendiri kok! Bayangin bisa naik ke proses TG1 dan TG2, pasti lebih nyaman kerja di Jepang!

Di sinilah pentingnya mengikuti pelatihan kerja Jepang, baik sebelum berangkat maupun saat sudah bekerja. Pekerja yang aktif belajar justru dinilai lebih serius dan layak dipertahankan oleh perusahaan.

4. Memiliki Mental Lemah dan Mudah Stress

Tekanan kerja di Jepang memang nyata, dan ini sering menjadi masalah pekerja Indonesia yang kurang siap mental. Jam kerja, target, dan standar tinggi bisa memicu stres jika tidak dibekali mental yang kuat.

Melalui pelatihan kerja Jepang, calon pekerja seharusnya sudah diperkenalkan dengan realita kerja dan cara mengelola tekanan. Mental yang tangguh akan membantu pekerja bertahan dan berkembang, bukan menyerah di tengah jalan.

Jangan sampai jadi pekerja Indonesia yang mudah mengeluh, stress dan akhirnya mengganggu produktivias. Kalau sampai ke level frustrasi, pasti nantinya kamu dipulangkan perusahaan karena gak bisa kerja!

5. Kurang Jaga Kesehatan dan Kondisi Fisik

Kesehatan sering diremehkan, padahal sangat berkaitan dengan kerja aman di Jepang. Pekerjaan fisik yang menuntut stamina tinggi akan sulit dijalani jika kondisi tubuh tidak prima. Musim dan cuaca Jepang yang beda jauh dengan Indonesia bisa jadi faktor utama ganggu kesehatan juga.

Perusahaan Jepang sangat memperhatikan keselamatan dan produktivitas. Pekerja yang sering sakit atau abai pada kondisi fisik bisa dianggap berisiko, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan kerja.

Bayangkan sudah keluar uang dan tenaga buat ke Jepang, tapi saat kerja di sana, kamu kena penyakit serius karena gak jaga diri. Pasti rugi bukan rasanya?

Lakukan Persiapan yang Pas Untuk Berangkat Kerja ke Jepang!

Pada akhirnya, sebagian besar masalah pekerja Indonesia di Jepang bukanlah hal yang tidak bisa dihindari. Selama bisa menjauhi masalah dokumen, jatuh mental, rasa tidak mau improver, dan jatuh sakit, kamu berpeluang sukses kerja di Jepang!

Untuk mempersiapkan semua hal lebih matang dan hindari masalah, kamu butuh pelatihan yang tepat. Inilah yang membuat jasa pendidikan dan pelatihan kerja ke Jepang masih dibutuhkan sampai sekarang. Walaupun ada jalur mandiri, lebih aman kamu belajar dulu di tempat yang tepat demi hindari masalah pekerja Indonesia di Jepang!

Kredit Gambar: David Shackelford/Flickr