Banyak pengamat mengatakan bahwa implementasi physical AI di Jepang bisa jadi solusi masalah krisis tenaga kerja di sana. Bagi kamu yang tidak tahu, physical AI adalah istilah penggunaan AI yang siap di dunia nyata. Jepang yang terkenal dengan teknologi robot-nya sudah siap mengembangkan physical AI.
Penggunaan Physical AI di Jepang
Robot yang sebelumnya hanya dibatasi algorithma tertentu, bisa lebih cerdas dengan implementasi AI di salamnya. Perusahaan besar seperti SoftBank, Toyota Motor dan Honda Motor bahkan sudah menggunakan teknologi physical AI dalam lini operasinya!
Penggunaan physical AI yang umum adalah robot pekerja dengan algorithma belajar otomatis. Untuk pekerjaan pabrik dengan lini sistematis, penggunaan robot ini terasa efisien. Selain itu benefit bekerja tanpa istirahat sangatlah membantu operasi banyak perusahaan!
Jepang sudah terkenal dengan pabrik-pabrik yang menggunakan robot. Hanya saja sekarang ada tambahan teknologi software AI yang menambah kecerdasan operasi robot. Jika dulu robot tidak bisa hadapi perubahan situasi dengan cepat tanpa control operator, jika ada AI, mereka cepat adaptasi.
Sayangnya, physical AI di Jepang masih kurang optimal untuk keperjaan yang butuh human touch. Contoh saja pelayan restoran. Walaupun ada restoran yang menggunakan robot, banyak customer yang tetap mencari pelayan manusia untuk tanya rekomendasi menu dan pelayanan lain.
Physical AI Bisa Membantu Masalah Kekurangan Pekerja Jepang
Walaupun sudah banyak digunakan perusahaan besar dan terbukti bermanfaat, masih banyak pihak skeptic soal physical AI. Masalahnya solusi krisis tenaga kerja di Jepang tidak mungkin diatasi dari satu cara. Masalah kekurangan pekerja di Jepang sangatlah kompleks.
Masalah utama yang sebabkan kekurangan tenaga kerja adalah penyusutan penduduk. Angka kelahiran yang turun selama 14 tahun berturut-turut menyebabkan jumlah penduduk produktif Jepang sangat kecil. Dari data sensus terakhir, penduduk produktif di Jepang hanya sekitar 59,6% dari total penduduk.
Jadi, kalau tidak terselesaikan masalah penyusutan penduduk, masalah kekurangan pekerja Jepang tetap akan berlanjut. Hanya saja, kekurangan pekerjaan akan terbantu jika ada pekerja otomatis dari physical AI di Jepang.
Pabrik yang tadinya butuh 10 orang bisa dioperasikan 3 orang saja menggunakan teknologi physical AI. Robot hanya cukup diberi input perintah dan bisa bergerak otomatis. Tiga orang yang bertugas itu cukup maintenance AI secara software, maintenance robot dan yang terakhir adalah yang control operasi dari awal sampai akhir.
Selain itu, pekerjaan-pekerjaan yang tidak disukai oleh masyarakat pada umunya bisa digantikan oleh physical AI. Contoh saja implementasi robot pengambil sampah otomatis dapat mengurangi kebutuhan pekerja pengambilan sampah. Jumlah warga Jepang yang mau ambil job ini makin kecil, jadi kalau bisa digantikan AI, mengapa tidak dicoba?
Jepang Berencana Kembangkan Physical AI untuk Pasar Global Juga
Walaupun bukan solusi krisis tenaga kerja di Jepang yang bisa menyembuhkan secara total, implementasi physical AI bisa membantu. Makanya pihak Pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) juga mengejar pengembangan physical AI ini. Pengembangan AI hingga bisa bekerja di dunia nyata tidak hanya akan membantu operasi pekerjaan di Jepang, tapi jadi senjata tersendiri di dunia global.
Jepang bisa bergerak pada dominasi hardware robot industri, tetapi tantangan muncul dalam integrasi software dan AI, terutama dibandingkan dengan perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan China. Kalau berhasil meningkatkan kemampuan physical AI dalam industrinya sendiri, kedepannya Jepang pasti lebih bisa bersaing dengan negara yang unggul dari segi software. Pihak Jepang bahkan menargetkan penguasaan 30% pasar global pada 2040 untuk physical AI.
Pandangan Para Investor Soal Industri Physical AI Jepang
Dari sisi investasi dan ekosistem, perusahaan seperti Woven Capital dan Global Brain menjadi penggerak utama pendanaan startup AI. Para investor memandang teknologi AI Jepang sedang menuju arah positif.
Direktur dari Woven Capital yaitu Ro Gupta menekankan bahwa kombinasi krisis tenaga kerja dan kekuatan robotik Jepang mempercepat adopsi AI fisik. Dia percaya kalau investasi di sektor AI sudah tepat melihat kondisi Jepang yang darurat butuh pekerja.
Bisa dibilang, implemenasi physical AI di Jepang sudah bukan lagi untuk keuntungan, tapi sudah jadi kebutuhan. Tanpa physical AI, banyak pekerjaan di Jepang yang tidak tercover. Walaupun sudah menyerap tenaga asing, kekurangan tenaga kerja tetap ada. Makanya, implementasi physical AI sudah harus dilakukan untuk berbagai sektor yang memungkinkan.
Pendapat ini diperkuat oleh Sho Yamanaka kepala perusahaan Salesforce Venture, yang merupakan peruashaan investasi besar. Ia berkata bahwa perusahaan yang melihat physical AI sebagai solusi atas keterbatasan tenaga kerja Jepang sudah mengambil langkah tepat.
Perusahaan Jepang tidak lagi tahap bereksperimen, tetapi sudah mengimplementasikan robot AI dalam operasi nyata, mulai dari manufaktur hingga inspeksi infrastruktur. Hal ini menunjukkan pergeseran dari tahap eksperimen ke implementasi massal.
Visi Kedepan Jepang dengan Physical Ai
Secara keseluruhan, kolaborasi antara korporasi besar, investor, dan startup membentuk ekosistem physical AI yang jelas di Jepang. Perusahaan seperti SoftBank, Toyota, dan Honda memanfaatkan AI untuk transformasi operasional, sementara investor mendorong inovasi dari sisi startup.
Nilai utama physical AI di Jepang kini terletak pada integrasi sistem dan deployment di dunia nyata. Banyak yang berpandangan Jepang telah memasuki fase baru di mana physical AI benar-benar siap digunakan secara luas.
Kedepannya, teknologi physical AI di Jepang akan menjadi hal umum. Kegunaannya akan lebih sebagai pendukung banyak solusi lain krisis tenaga kerja Jepang. Bayangkan solusi teknologi, menyerap tenaga kerja asing dan juga mendorong kelahiran di Jepang berjalan semua, pasti masa depan Jepang lebih baik!
Kredit Gambar: Possessed Photography/Unsplash