🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Apa Saja Benefit Karir Setelah Kerja di Jepang? Jangan Remehkan Peluang Suksesnya!

Apa Saja Benefit Karir Setelah Kerja di Jepang? Jangan Remehkan Peluang Suksesnya!

Benefit karir setelah kerja di Jepang seperti apa ya? Banyak orang membayangkan kerja di luar negeri hanya sebagai kesempatan dapatkan banyak uang. Hal ini termasuk soal Jepang! Kalau sudah tidak lanjut kerja di Jepang, banyak lulusan yang terkadang tanpa arah kerja di Indonesia.

Padahal, habis kerja di Jepang, opsi karir-nya banyak lho! Berikut penjelasan mengapa benefit karir setelah kerja di Jepang layak diperhitungkan serius. Kalau tahu benefitnya, kamu bisa gunakan untuk lanjutkan karir yang baik di Indonesia!

1. Mendapatkan Pengalaman Kerja di Jepang Adalah Nilai Plus!

Pengalaman kerja di Jepang dapat menjadi senjata tersendiri untuk mendapatkan kerja di tempat mejanjikan. Pernah kerja ke Jepang dan sukses selesai kontrak menunjukan kamu punya aspek mental kuat, disiplin tinggi, etos kerja dan standar kualitas.

Berhasil kerja di Jepang juga menjadi bukti kompetensi taraf internasional. Jadi, kamu akan lebih mudah diterima perusahaan yang mencari pekerja terpercaya dan  berkualitas.

2. Skill Teknis dan Mental Kerja Naik Level

Selama bekerja di Jepang, kamu tidak hanya mengasah skill teknis sesuai bidang yang kamu kerjakan. Contoh saja, kamu yang kerja di industri manufaktur, perhotelan, pertanian, atau konstruksi di Jepang, tetap dapat soft skill kerja sama!

Soft skill ini bisa berupa gaya profesionalitas, sikap hadapi kerja dan tantangan kerja. Terkadang hal sepele seperti ketepatan waktu, kerja tim, problem solving, dan budaya kaizen (perbaikan berkelanjutan) menghasilkan kekuatan kerja tersendiri. Skill ini bersifat universal dan sangat dicari di banyak perusahaan!

3. Peluang Bekerja Permanen di Jepang Terbuka Lebar

Bagi yang ingin melangkah lebih jauh, bekerja permanen di Jepang bukan hal mustahil. Dengan visa kerja jangka panjang seperti Tokutei Ginou atau jalur profesional, pekerja asing berpeluang memperpanjang karir, naik posisi, bahkan menetap. Jepang sendiri sedang kekurangan tenaga kerja, sehingga peluang ini semakin realistis.

4. Bisa Buka Usaha Sendiri Hasil Menempa Keterampilan di Jepang

Sepulang dari Jepang, banyak eks pekerja langsung mengelola modal untuk buat usaha. Pengalaman hidup di budaya lain, memberikan perspektif untuk produk unik. Terkadang, implementasinya dapat membuka kesempatan sukses dari usaha sendiri!

Kemampuan sederhana seperti mampu bahasa Jepang saja bisa menggiring kamu buka usaha les bahasa. Kalau punya hard skill buat sumpit, kamu bisa membuat kerajinan sumpit gaya oriental juga. Semua hal ini bisa jadi benefit karir setelah kerja di Jepang yang bisa kamu coba sendiri!

Kredit Gambar: Greg @greegorey/Unsplash

Gak Nyangka Antusiasme Kerja ke Luar Negeri Warga Indonesia Masih Sangat Tinggi! Apa Alasannya?

Gak Nyangka Antusiasme Kerja ke Luar Negeri Warga Indonesia Masih Sangat Tinggi! Apa Alasannya?

Kalau kamu tanya orang biasa di Indonesia soal kerja ke luar negeri, pasti kebanyakan ingin. Antusiasme orang Indonesia bekerja di luar negeri memang selalu tinggi. Hanya saja, kesempatan dan kemampuan mereka menggapai mimpi ini terbatas.

Orang Indonesia selalu ingin kerja ke luar negeri karena memang ada kesempatan lebih baik daripada di Indonesia. Mulai dari kesempatan dapat gaji tinggi, kesempatan kerja yang lebih besar di luar dan juga prospek naikan kemampuan dengan pengalaman kerja internasional.

Bukti Banyak Orang Indonesia Mau Kerja Luar Negeri!

Pada data 2024, sudah resmi tercatat 297.434 orang baru dari Indonesia resmi berangkat jadi migran melalui program resmi BP2MI. Angka yang berangkat dari program SO dan magang, pasti lebih banyak lagi!

Angka tersebut terlihat meningkat karena di 2023, angkanya yang tercatat adalah 274.965. Menurut BP2MI, kenaikan angka ini adalah tanda bahwa akses kerja ke luar negeri makin terbuka. Selain itu, antusiame orang Indonesia kerja ke luar Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun.

Menurut laporan IOM Indonesia, angka peningkatan ini sudah mendekati angka orang Indonesia kerja ke luar negeri saat pra-pandemi. Ada kemungkinan di tahun 2030 nanti, angkanya sudah berkembang lagi beberapa kali lipat!

Tujuan Kerja Populer Orang Indonesia

Dari informasi yang ada, tujuan utama kerja orang Indonesia umunya ada di negara: Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan Australia. Negara tersebut dipilih karena sudah memiliki relasi lama dengan jalur kerja Indonesia. Banyak program kerja resmi dan swasta tersedia untuk menyalurkan kamu kerja ke negara-negara itu. Karena sudah banyak yang ada, jadi tujuan kerjanya juga lebih mudah diakses dibanding kerja ke Amerika ataupun Russia.

Bekerja dari jalur resmi ke negara yang sudah berhubungan dekat dengan Indonesia memang ada benefitnya tersendiri. Pertama, negara mereka sudah kenal dengan pekerja Indoensia yang sebelumnya berangkat ke sana. Kedua, koneksi bilateral dua negara juga lebih mudah karena sudah lama berhubungan. Kegita dari perspektif makro, pergerakan tenaga kerja ini juga berpengaruh pada aliran uang masuk yang konsisten. Jadi, sama-sama win-win.

Kontribusi Pejuang Devisa Indonesia!

Berdasarkan datat World Bank, penerimaan remitansi pribadi (personal remittances) ke Indonesia tercatat signifikan, menggambarkan kontribusi pekerja migran terhadap ekonomi rumah tangga dan devisa negara. Jadi, gak cuma kamu dan keluarga yang untung, negara juga ikut untung!

Bank Indonesia dan lembaga statistik nasional juga memetakan distribusi pekerja Indonesia berdasarkan negara tuan rumah, yang membantu perencanaan kebijakan perlindungan dan pelatihan keterampilan agar pekerja lebih siap dan aman saat bekerja di luar negeri.

Tertarik Kerja Jepang?

Nah, bagi kamu yang ingin bekerja ke Jepang, kamu gak perlu takut. Silahkan kejar impian karena banyak jalur sudah tersedia. Di atas sudah dibahas benefit dan ketersediaan jalur yang ada. Jepang adalah salah satu partner Indonesia yang sudah sangat dekat.

Baik jalur pemerintah, swasta dan jalur mandiri, sudah terbuka antara pekerja Indonesia yang mau masuk dunia kerja Jepang. Kamu hanya perlu mencari program kerja Jepang aman dan cocok untuk mencapai kesempatan kerja ke sana!

Manfaatkan antusiasme kerja ke luar negeri dari Indonesia untuk membuka peluang kerja mimpi kamu. Antusiasme yang besar ini artinya banyak orang juga sedang berusaha. Pasti pintu lebih terbuka jika lebih banyak orang Indoensia ingin kerja ke luar negeri. Yuk, manfaatkan kesempatannya sekarang!

Kredit Gambar: Towfiqu barbhuiya/Unsplash

Mari Timbang Dinding Birokrasi VS Benefit Kerja di Jepang

Mari Timbang Dinding Birokrasi VS Benefit Kerja di Jepang

Pandangan pihak internasional untuk bekerja di Jepang sebenarnya sangat rendah. Rendahnya daya tarik Jepang untuk menyerap tenaga kerja internasional dikarenakan nilai tukar Yen rendah dan masalah budaya kerja.

Dari pandangan orang Eropa dan Amerika, Jepang hanya menarik dari segi wisata. Untuk bekerja di sana, banyak orang merasa ragu jika dilihat secara teknisnya. Sayangnya, pandangan dari barat ini berbeda sekali dengan kenyataan!

Daya Tarik Jepang Lebih Terlihat Menyerap Tenaga Kerja Asing dari Asia

Perspektif ini tentu berbeda sekarang. Beberapa tahun terakhir, ekonomi Jepang mulai menguat. Selain itu, Jepang masih menarik untuk negara-negara berkembang di ASEAN dan Afrika.

Contoh saja di Indonesia, program LPK Magang Jepang selalu laku dan banyak pendaftarnya. Program dari lembaga IM Japan yang bekerja sama dengan pemerintah untuk kirim tenaga kerja magang ke Jepang selalu laku juga.

Hal ini sudah berlangsung sebelum pandemi dan hanya mengalami peningkatan besar sejak 2018. Berdasarkan data laporan Nikkei Asia, lonjakan tahun 2018 itu capai 192% dari tahun sebelumnya. Walaupun secara total hanya ada 121.507 jumlah TKI, peningkatan ini tidak boleh diremehkan.

Daya tarik yang makin kuat di area Asia dapat dibuktikan juga dengan peningkatan jumlah tenaga kerja asing di Jepang tahun 2023 lalu.

Jumlah pekerja asing sudah capai 2,04 juta orang pada tahun 2023 itu. Menurut Kementrian Kesehatan Jepang, jumlah pekerja asing tersebut meningkat 12% dari tahun 2022.

Negara berkembang seperti ASEAN mengisi lowongan kerja yang low skilled dan magang, tetapi pendatang dari maju lain juga meningkat. Tercatat bahwa pendatang dari negara China, Taiwan dan Korea Selatan telah mengalami peningkatan juga beberapa tahun terakhir.

Mereka menempati posisi skilled worker dan golongan kerja high-end yang memang dibutuhkan di Jepang juga. Pekerja asing dengan skill set tinggi ini mengalami peningkatan sebanyak 29% dari tahun sebelumnya.

Berbagai Alasan Daya Tarik Bekerja di Jepang Meningkat dari Tahun ke Tahun

Dari artikel opini Takashi Kumon di The Japan Times, dijelaskan bahwa daya tarik Jepang untuk menyerap tenaga kerja bukan dari aspek teknisnya.

Jika dilihat dari kekuatan Yen, budaya kerja dan juga besaran gaji rata-rata, Jepang memang kurang memiliki daya tarik. Namun, saat dilihat dari aspek non-teknisnya, Jepang sangat populer sebagai target migrasi.

Aspek non-teknis ini meliputi soft power dengan budaya anime, daya tarik wisata, kondisi sosialnya yang relative aman, daya tarik kuliner dan juga kebersihannya. Banyak orang ingin masuk Jepang hanya karena pengaruh tersebut.

Daya tarik lain adalah aspek lowongan kerja di Jepang terbuka lebar. Dibandingkan negara-negara Asia lainnya, Jepang memiliki peluang kerja untuk anak muda yang lebih mudah.

Dari data yang ada, anak muda di Asia selalu kesulitan cari kerja di negara asalnya. Contoh saja Indonesia memiliki pengangguran anak muda yang mencapai angka 13,8%. Para anak muda ini padahal bertalenta, tetapi talenta yang mereka punya tidak mampu diserap oleh pasar tenaga kerja Indonesia.

Contoh saja kemampuan sastra Jepang, kemampuan menjadi caregiver dan montir. Di Indonesia, golongan pekerjaan ini sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi untuk golongan muda yang belum punya banyak pengalaman kerja.

Jika para anak muda ini bekerja di Jepang, mereka akan langsung diterima. Kamu harus ingat bahwa di Jepang ada krisis tenaga kerja muda, jadi kesempatan kerja para anak muda tersebut terbuka besar. Selain itu, gaji di Jepang lebih besari untuk para anak muda bertalenta khusus tersebut.

Kamu bisa bayangkan jadi montir di Indonesia rata-rata dapat gaji Rp3.700.000 per bulan. Jika di Jepang, gaji bisa capai Rp15.000.000 per bulan. Bagaimana tidak menarik? Inilah yang akhirnya mendorong anak muda dari banyak negara berkembang Asia ke Jepang.

Daya Tarik Meningkat Tanpa Dukungan Birokrasi yang Lebih Baik

Walaupun Jepang menjadi tempat bekerja yang menarik bagi anak muda, masalah birokrasi migrasi ke Jepang masih cukup menyulitkan. Untuk masuk ke Jepang, pemenuhan level bahasa yang tinggi diperlukan.

Banyak anak muda lebih mampu berbahasa Inggris dibandingkan bahasa Jepang. Jadi, walaupun sudah ahli bahasa internasional, bekerja di Jepang menganggap hal ini kurang. Kamu harus mampu mencapai taraf N4 minimal untuk magang ke Jepang.

Jika ingin bekerja status normal (bukan magang atau part time) kamu minimal harus tembus taraf level N3 untuk Bahasa Jepang. Ini adalah syarat yang diutamakan dan menjadi penghalang utama untuk kerja ke Jepang.

Bahasa memang penting dalam bekerja, tetapi mencapai keahlian bahasa sampai N3 itu seperti meminta orang asing lancar dan ahli grammar Indonesia hanya untuk bekerja sebagai karyawan staff biasa. Padahal orang asli Indonesia belum tentu bisa ahli grammar Indonesia.

Hal inilah yang menyulitkan banyak pihak yang ingin kerja di Jepang. Untungnya, daya tarik tinggal di Jepang lebih besar dibandingkan penghalangnya. Banyak orang rela habiskan banyak uang untuk kursus bahasa Jepang sampai JLPT level N3 ke atas.

Sayangnya, untuk anak muda yang paling dibutuhkan pihak Jepang akan kesulitan soal bahasa ini. Bayangkan saja orang yang lulus SMK montir dan ahli, pasti tetap kesulitan jika harus belajar bahasa Jepang sampai N3 terlebih dahulu.

Banyak orang berharap bisa bekerja di Jepang dengan level bahasa N5. Pekerjaan dengan N5 ini tidak harus yang posisi tinggi. Hal seperti buruh tani dan pekerja pabrikan saja pasti sudah mampu dengan level bahasa N5.

Jika ada kemudahan tersebut, kesempatan anak muda asing bekerja di Jepang akan meningkat lebih pesat. Para anak muda berharap standar bahasa N3 hanya diharuskan untuk yang ingin posisi lebih tinggi.

Mereka memandang jika terbiasa di Jepang, kemampuan bahasa mereka juga meningkat secara otomatis.  Bekerja di Jepang dengan level bahasa N5 dapat membantu juga biasakan diri interaksi dengan bahasa Jepang. Jadi, saat tes level bahasa N3, mereka berharap lebih mampu setelah adaptasi.

Jika dari negara asal sudah diminta capai level kerja N3, pasti terasa lebih berat dibanding belajar standar bahasa yang sama setelah terbiasa di Jepang.

Kemudahan Birokrasi Sedang Berjalan, Tapi Belum Sempurna

Sebenarnya, banyak kemudahan mulai dibentuk oleh pihak Jepang agar tenaga kerja muda asing cepat masuk mengisi lowongan kerja urgent. Namun, proses ini tidak bisa dilakukan dengan perubahan besar.

Jepang lebih fokus pada perubahan kecil sedikit demi sedikit sekaligus melakukan evaluasi di tiap langkahnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan perubahan tidak sebabkan shock pada kondisi internal Jepang.

Jika kamu lihat, banyak benefit bekerja di Jepang yang makin ditawarkan. Mulai dari kemudahan jadi penduduk tetap, proses visa kerja dan juga kemudahan soal akomodasi pekerja magang di Jepang lebih jelas sekarang.

Pengurusan kasus perusahaan nakal yang eksploitasi tenaga kerja asing juga lebih ketat saat ini. Indonesia saja bahkan diajak diskusi demi memperlancar pengiriman tenaga kerja ke Jepang. Jadi, sudah jelas bahwa ada usaha permudah birokrasi, tetapi dari sisi bahasa belum tersentuh kemudahannya.

Saat ini, daya tarik Jepang untuk menyerap tenaga kerja masih tinggi. Namun bukan dari soal gaji ataupun nilai tukar Yen. Faktor pendapatan besar hanya mampu menggerakan tenaga kerja dari negara berkembang. Untuk pekerja dari negara maju, kebanyakan hanya tertarik faktor Jepang sebagai negara yang bagus!

Perubahan Budaya Kerja Jepang Didorong Peran Milenial dan Gen Z, Apa Aja Nih yang Berubah?

Perubahan Budaya Kerja Jepang Didorong Peran Milenial dan Gen Z, Apa Aja Nih yang Berubah?

Perubahan budaya kerja Jepang sangat terasa beberapa tahun terakhir. Setelah masa pandemi, perspektif anak muda Jepang langsung berubah. Mereka merasa kerja di kantoran bukan lagi hal yang harus dikejar.

Banyak milenial dan gen Z menyaksikan sendiri bahwa seberapa keras usaha orang tua mereka, perusahaan tidak perduli. PHK saat masa pandemi menjadi saksi jelas bahwa dedikasi kerja ke perusahaan bukan penentu hidup nyaman.

Selain itu, tuntutan hidup tidak sekedar kerja. Mereka telah perhitungkan sekeras apapun mereka bekerja tidak akan bisa hidup enak. Harga-harga makin mahal, beban hidup makin berat! Hal inilah yang memunculkan perubahan budaya kerja Jepang.

Bukti Nyata Perubahan Budaya Kerja Jepang

Dalam laporan dari Metropolis Japan, milenial dan Gen Z Jepang tidak lagi memandang pekerjaan sebagai pusat identitas hidup. Bagi mereka, kerja adalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan tujuan utama yang harus mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Pergeseran nilai ini menjadi salah satu pemicu utama berubahnya budaya kerja konvensional Jepang.

Jika pindah kerja bisa mendapatkan keseimbangan hidup dan pendapatan cukup, mereka tidak akan pertahankan pekerjaan lama mereka!

Bukti lain terlihat dari tumbuhnya jasa-jasa mengundurkan diri di Jepang. Jasa seperti ini membantu para pekerja muda keluar dari perusahaan lama yang susah mengurusnya dan pindah ke pekerjaan baru.

Tidak jarang ada golongan milenial dan gen Z yang bekerja freelance hingga remote di luar pekerjaan tradisional kantoran. Semua ini tumbuh besar di era baru budaya kerja Jepang saat ini.

Perubahan Budaya Kerja Apa Saja yang Paling Terlihat?

Bagi kamu yang penasaran bentuk perbaikan kondisi kerja Jepang, berikut adalah perubahan yang paling mencolok disebabkan milenial dan gen Z di Jepang:

Kesetiaan Terhadap Perusahaan

Perubahan pertama yang terlihat adalah melemahnya pandangan lifetime employment. Generasi muda Jepang sangat terbuka untuk pindah kerja jika merasa tidak dihargai atau berkembang. Golongan gen Z menimbang antara benefit dan usaha yang sudah mereka keluarga. Jika merasa tidak imbang dan tidak dapat apresiasi dari perusahaan, mereka mudah untuk pindah.

Mengutamakan Work-Life Balance

Perubahan budaya kerja Jepang yang kedua adalah pekerja makin utamakan work-life balance. Generasi muda cenderung menolak lembur berlebihan dan tidak lagi melihat jam kerja panjang sebagai simbol dedikasi. Waktu luang, hobi, hubungan sosial, dan kesehatan mental dipandang sama pentingnya dengan karier.

Melakukan Quiet Quiting Makin Umum

Fenomena seperti quiet quitting juga muncul sebagai bentuk perlawanan halus terhadap budaya kerja berlebihan. Praktek Quiet Quiting dilakukan dengan mengerjakan tugas sesuai kontrak dan tanpa melebihi deskripsi kerja. Selain itu, mereka hanya bertugas profesional untuk menyelesaikan tugas.

Pandangan berbuat lebih dan menjadi menonjol demi promosi atau bonus tidak lagi menjadi hal penting. Mereka merasa jika mengorbankan diri untuk mengejar hal yang belum tentu diberikan perusahaan adalah hal yang percuma.

Makin Banyak yang Punya Karir Non-Konvensional

Di sisi lain, generasi ini juga lebih terbuka terhadap jalur karier non-konvensional. Dari berbagai survey, anak muda Jepang sekarang bermimpi kerja jadi YouTuber, pembuat konten, editor dan digital artist. Pekerjaan tidak umum ini tidak lagi soal kantoran.

Bekerja freelance, kerja basis proyek, kerja industri kreatif, wirausaha digital adalah opsi yang makin populer dimiliki milenial dan gen Z di Jepang. Sudah terbukti kalau karir non-konvesional ini tetap bisa datangkan sukses yang bahkan lebih memuaskan daripada kerja kantoran!

Kesadaran akan Kesehatan Mental Pekerja

Banyak gen z di Jepang merasa kesehatan mental adalah faktor penting di lingkungan kerja. Generasi muda Jepang lebih berani berbicara jika merasakan efek stress, burnout ataupun tekanan psikologis. Mereka bahkan bisa mengatur waktu untuk melakukan managemen mental pribadi.

Namun, pengelolaan ini sering dinilai manja oleh generasi yang lebih tua. Padahal di era sekarang ini, memaksakan diri hingga letih mental akan menyebabkan lebih banyak masalah pada diri.

Perubahan Budaya Kerja Baru Ini Baik Atau Buruk?

Secara keseluruhan, perubahan budaya Jepang yang terjadi sekarang ini ada positifnya untuk generasi muda. Namun, bagi perusahaan dan generasi tua, perubahan ini tampak negatif. Milenial dan gen Z di Jepang sering dapat julukan generasi malas dan tidak ambisius.

Untuk saat ini, kondisi budaya kerja baru ini membuat kondisi di Jepang tidak lagi kaku. Banyak orang Indonesia yang kerja di Jepang selalu kaget dengan budaya yang kaku dan terlalu corporate. Namun, di masa depanhal ini bisa berubah.

Semoga perubahan budaya kerja Jepang yang terjadi sekarang ini bisa membantu pekerja asing lebih nyaman. Budaya yang terlalu tradisional di tempat kerja Jepang hingga meningkatkan stress di era dulu harus diperbaiki. Sekarang saatnya membentuk budaya kerja yang lebih sehat dengan milenial dan gen Z Jepang!

Kredit Gambar: S O C I A L . C U T/Unsplash