Perubahan budaya kerja Jepang sangat terasa beberapa tahun terakhir. Setelah masa pandemi, perspektif anak muda Jepang langsung berubah. Mereka merasa kerja di kantoran bukan lagi hal yang harus dikejar.
Banyak milenial dan gen Z menyaksikan sendiri bahwa seberapa keras usaha orang tua mereka, perusahaan tidak perduli. PHK saat masa pandemi menjadi saksi jelas bahwa dedikasi kerja ke perusahaan bukan penentu hidup nyaman.
Selain itu, tuntutan hidup tidak sekedar kerja. Mereka telah perhitungkan sekeras apapun mereka bekerja tidak akan bisa hidup enak. Harga-harga makin mahal, beban hidup makin berat! Hal inilah yang memunculkan perubahan budaya kerja Jepang.
Bukti Nyata Perubahan Budaya Kerja Jepang
Dalam laporan dari Metropolis Japan, milenial dan Gen Z Jepang tidak lagi memandang pekerjaan sebagai pusat identitas hidup. Bagi mereka, kerja adalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan tujuan utama yang harus mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Pergeseran nilai ini menjadi salah satu pemicu utama berubahnya budaya kerja konvensional Jepang.
Jika pindah kerja bisa mendapatkan keseimbangan hidup dan pendapatan cukup, mereka tidak akan pertahankan pekerjaan lama mereka!
Bukti lain terlihat dari tumbuhnya jasa-jasa mengundurkan diri di Jepang. Jasa seperti ini membantu para pekerja muda keluar dari perusahaan lama yang susah mengurusnya dan pindah ke pekerjaan baru.
Tidak jarang ada golongan milenial dan gen Z yang bekerja freelance hingga remote di luar pekerjaan tradisional kantoran. Semua ini tumbuh besar di era baru budaya kerja Jepang saat ini.
Perubahan Budaya Kerja Apa Saja yang Paling Terlihat?
Bagi kamu yang penasaran bentuk perbaikan kondisi kerja Jepang, berikut adalah perubahan yang paling mencolok disebabkan milenial dan gen Z di Jepang:
Kesetiaan Terhadap Perusahaan
Perubahan pertama yang terlihat adalah melemahnya pandangan lifetime employment. Generasi muda Jepang sangat terbuka untuk pindah kerja jika merasa tidak dihargai atau berkembang. Golongan gen Z menimbang antara benefit dan usaha yang sudah mereka keluarga. Jika merasa tidak imbang dan tidak dapat apresiasi dari perusahaan, mereka mudah untuk pindah.
Mengutamakan Work-Life Balance
Perubahan budaya kerja Jepang yang kedua adalah pekerja makin utamakan work-life balance. Generasi muda cenderung menolak lembur berlebihan dan tidak lagi melihat jam kerja panjang sebagai simbol dedikasi. Waktu luang, hobi, hubungan sosial, dan kesehatan mental dipandang sama pentingnya dengan karier.
Melakukan Quiet Quiting Makin Umum
Fenomena seperti quiet quitting juga muncul sebagai bentuk perlawanan halus terhadap budaya kerja berlebihan. Praktek Quiet Quiting dilakukan dengan mengerjakan tugas sesuai kontrak dan tanpa melebihi deskripsi kerja. Selain itu, mereka hanya bertugas profesional untuk menyelesaikan tugas.
Pandangan berbuat lebih dan menjadi menonjol demi promosi atau bonus tidak lagi menjadi hal penting. Mereka merasa jika mengorbankan diri untuk mengejar hal yang belum tentu diberikan perusahaan adalah hal yang percuma.
Makin Banyak yang Punya Karir Non-Konvensional
Di sisi lain, generasi ini juga lebih terbuka terhadap jalur karier non-konvensional. Dari berbagai survey, anak muda Jepang sekarang bermimpi kerja jadi YouTuber, pembuat konten, editor dan digital artist. Pekerjaan tidak umum ini tidak lagi soal kantoran.
Bekerja freelance, kerja basis proyek, kerja industri kreatif, wirausaha digital adalah opsi yang makin populer dimiliki milenial dan gen Z di Jepang. Sudah terbukti kalau karir non-konvesional ini tetap bisa datangkan sukses yang bahkan lebih memuaskan daripada kerja kantoran!
Kesadaran akan Kesehatan Mental Pekerja
Banyak gen z di Jepang merasa kesehatan mental adalah faktor penting di lingkungan kerja. Generasi muda Jepang lebih berani berbicara jika merasakan efek stress, burnout ataupun tekanan psikologis. Mereka bahkan bisa mengatur waktu untuk melakukan managemen mental pribadi.
Namun, pengelolaan ini sering dinilai manja oleh generasi yang lebih tua. Padahal di era sekarang ini, memaksakan diri hingga letih mental akan menyebabkan lebih banyak masalah pada diri.
Perubahan Budaya Kerja Baru Ini Baik Atau Buruk?
Secara keseluruhan, perubahan budaya Jepang yang terjadi sekarang ini ada positifnya untuk generasi muda. Namun, bagi perusahaan dan generasi tua, perubahan ini tampak negatif. Milenial dan gen Z di Jepang sering dapat julukan generasi malas dan tidak ambisius.
Untuk saat ini, kondisi budaya kerja baru ini membuat kondisi di Jepang tidak lagi kaku. Banyak orang Indonesia yang kerja di Jepang selalu kaget dengan budaya yang kaku dan terlalu corporate. Namun, di masa depanhal ini bisa berubah.
Semoga perubahan budaya kerja Jepang yang terjadi sekarang ini bisa membantu pekerja asing lebih nyaman. Budaya yang terlalu tradisional di tempat kerja Jepang hingga meningkatkan stress di era dulu harus diperbaiki. Sekarang saatnya membentuk budaya kerja yang lebih sehat dengan milenial dan gen Z Jepang!
Kredit Gambar: S O C I A L . C U T/Unsplash





