Pandangan pihak internasional untuk bekerja di Jepang sebenarnya sangat rendah. Rendahnya daya tarik Jepang untuk menyerap tenaga kerja internasional dikarenakan nilai tukar Yen rendah dan masalah budaya kerja.
Dari pandangan orang Eropa dan Amerika, Jepang hanya menarik dari segi wisata. Untuk bekerja di sana, banyak orang merasa ragu jika dilihat secara teknisnya. Sayangnya, pandangan dari barat ini berbeda sekali dengan kenyataan!
Daya Tarik Jepang Lebih Terlihat Menyerap Tenaga Kerja Asing dari Asia
Perspektif ini tentu berbeda sekarang. Beberapa tahun terakhir, ekonomi Jepang mulai menguat. Selain itu, Jepang masih menarik untuk negara-negara berkembang di ASEAN dan Afrika.
Contoh saja di Indonesia, program LPK Magang Jepang selalu laku dan banyak pendaftarnya. Program dari lembaga IM Japan yang bekerja sama dengan pemerintah untuk kirim tenaga kerja magang ke Jepang selalu laku juga.
Hal ini sudah berlangsung sebelum pandemi dan hanya mengalami peningkatan besar sejak 2018. Berdasarkan data laporan Nikkei Asia, lonjakan tahun 2018 itu capai 192% dari tahun sebelumnya. Walaupun secara total hanya ada 121.507 jumlah TKI, peningkatan ini tidak boleh diremehkan.
Daya tarik yang makin kuat di area Asia dapat dibuktikan juga dengan peningkatan jumlah tenaga kerja asing di Jepang tahun 2023 lalu.
Jumlah pekerja asing sudah capai 2,04 juta orang pada tahun 2023 itu. Menurut Kementrian Kesehatan Jepang, jumlah pekerja asing tersebut meningkat 12% dari tahun 2022.
Negara berkembang seperti ASEAN mengisi lowongan kerja yang low skilled dan magang, tetapi pendatang dari maju lain juga meningkat. Tercatat bahwa pendatang dari negara China, Taiwan dan Korea Selatan telah mengalami peningkatan juga beberapa tahun terakhir.
Mereka menempati posisi skilled worker dan golongan kerja high-end yang memang dibutuhkan di Jepang juga. Pekerja asing dengan skill set tinggi ini mengalami peningkatan sebanyak 29% dari tahun sebelumnya.
Berbagai Alasan Daya Tarik Bekerja di Jepang Meningkat dari Tahun ke Tahun
Dari artikel opini Takashi Kumon di The Japan Times, dijelaskan bahwa daya tarik Jepang untuk menyerap tenaga kerja bukan dari aspek teknisnya.
Jika dilihat dari kekuatan Yen, budaya kerja dan juga besaran gaji rata-rata, Jepang memang kurang memiliki daya tarik. Namun, saat dilihat dari aspek non-teknisnya, Jepang sangat populer sebagai target migrasi.
Aspek non-teknis ini meliputi soft power dengan budaya anime, daya tarik wisata, kondisi sosialnya yang relative aman, daya tarik kuliner dan juga kebersihannya. Banyak orang ingin masuk Jepang hanya karena pengaruh tersebut.
Daya tarik lain adalah aspek lowongan kerja di Jepang terbuka lebar. Dibandingkan negara-negara Asia lainnya, Jepang memiliki peluang kerja untuk anak muda yang lebih mudah.
Dari data yang ada, anak muda di Asia selalu kesulitan cari kerja di negara asalnya. Contoh saja Indonesia memiliki pengangguran anak muda yang mencapai angka 13,8%. Para anak muda ini padahal bertalenta, tetapi talenta yang mereka punya tidak mampu diserap oleh pasar tenaga kerja Indonesia.
Contoh saja kemampuan sastra Jepang, kemampuan menjadi caregiver dan montir. Di Indonesia, golongan pekerjaan ini sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi untuk golongan muda yang belum punya banyak pengalaman kerja.
Jika para anak muda ini bekerja di Jepang, mereka akan langsung diterima. Kamu harus ingat bahwa di Jepang ada krisis tenaga kerja muda, jadi kesempatan kerja para anak muda tersebut terbuka besar. Selain itu, gaji di Jepang lebih besari untuk para anak muda bertalenta khusus tersebut.
Kamu bisa bayangkan jadi montir di Indonesia rata-rata dapat gaji Rp3.700.000 per bulan. Jika di Jepang, gaji bisa capai Rp15.000.000 per bulan. Bagaimana tidak menarik? Inilah yang akhirnya mendorong anak muda dari banyak negara berkembang Asia ke Jepang.
Daya Tarik Meningkat Tanpa Dukungan Birokrasi yang Lebih Baik
Walaupun Jepang menjadi tempat bekerja yang menarik bagi anak muda, masalah birokrasi migrasi ke Jepang masih cukup menyulitkan. Untuk masuk ke Jepang, pemenuhan level bahasa yang tinggi diperlukan.
Banyak anak muda lebih mampu berbahasa Inggris dibandingkan bahasa Jepang. Jadi, walaupun sudah ahli bahasa internasional, bekerja di Jepang menganggap hal ini kurang. Kamu harus mampu mencapai taraf N4 minimal untuk magang ke Jepang.
Jika ingin bekerja status normal (bukan magang atau part time) kamu minimal harus tembus taraf level N3 untuk Bahasa Jepang. Ini adalah syarat yang diutamakan dan menjadi penghalang utama untuk kerja ke Jepang.
Bahasa memang penting dalam bekerja, tetapi mencapai keahlian bahasa sampai N3 itu seperti meminta orang asing lancar dan ahli grammar Indonesia hanya untuk bekerja sebagai karyawan staff biasa. Padahal orang asli Indonesia belum tentu bisa ahli grammar Indonesia.
Hal inilah yang menyulitkan banyak pihak yang ingin kerja di Jepang. Untungnya, daya tarik tinggal di Jepang lebih besar dibandingkan penghalangnya. Banyak orang rela habiskan banyak uang untuk kursus bahasa Jepang sampai JLPT level N3 ke atas.
Sayangnya, untuk anak muda yang paling dibutuhkan pihak Jepang akan kesulitan soal bahasa ini. Bayangkan saja orang yang lulus SMK montir dan ahli, pasti tetap kesulitan jika harus belajar bahasa Jepang sampai N3 terlebih dahulu.
Banyak orang berharap bisa bekerja di Jepang dengan level bahasa N5. Pekerjaan dengan N5 ini tidak harus yang posisi tinggi. Hal seperti buruh tani dan pekerja pabrikan saja pasti sudah mampu dengan level bahasa N5.
Jika ada kemudahan tersebut, kesempatan anak muda asing bekerja di Jepang akan meningkat lebih pesat. Para anak muda berharap standar bahasa N3 hanya diharuskan untuk yang ingin posisi lebih tinggi.
Mereka memandang jika terbiasa di Jepang, kemampuan bahasa mereka juga meningkat secara otomatis. Bekerja di Jepang dengan level bahasa N5 dapat membantu juga biasakan diri interaksi dengan bahasa Jepang. Jadi, saat tes level bahasa N3, mereka berharap lebih mampu setelah adaptasi.
Jika dari negara asal sudah diminta capai level kerja N3, pasti terasa lebih berat dibanding belajar standar bahasa yang sama setelah terbiasa di Jepang.
Kemudahan Birokrasi Sedang Berjalan, Tapi Belum Sempurna
Sebenarnya, banyak kemudahan mulai dibentuk oleh pihak Jepang agar tenaga kerja muda asing cepat masuk mengisi lowongan kerja urgent. Namun, proses ini tidak bisa dilakukan dengan perubahan besar.
Jepang lebih fokus pada perubahan kecil sedikit demi sedikit sekaligus melakukan evaluasi di tiap langkahnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan perubahan tidak sebabkan shock pada kondisi internal Jepang.
Jika kamu lihat, banyak benefit bekerja di Jepang yang makin ditawarkan. Mulai dari kemudahan jadi penduduk tetap, proses visa kerja dan juga kemudahan soal akomodasi pekerja magang di Jepang lebih jelas sekarang.
Pengurusan kasus perusahaan nakal yang eksploitasi tenaga kerja asing juga lebih ketat saat ini. Indonesia saja bahkan diajak diskusi demi memperlancar pengiriman tenaga kerja ke Jepang. Jadi, sudah jelas bahwa ada usaha permudah birokrasi, tetapi dari sisi bahasa belum tersentuh kemudahannya.
Saat ini, daya tarik Jepang untuk menyerap tenaga kerja masih tinggi. Namun bukan dari soal gaji ataupun nilai tukar Yen. Faktor pendapatan besar hanya mampu menggerakan tenaga kerja dari negara berkembang. Untuk pekerja dari negara maju, kebanyakan hanya tertarik faktor Jepang sebagai negara yang bagus!





