Berdasarkan survey yang dilakukan perusahaan Mynavi, para istri Jepang tidak suka suami ambil cuti demi rawat anak. Padahal, insentif agar suami istri lebih mudah ambil cuti demi rawat anak sudah tersedia di Jepang. Namun, kenapa malah ada penolakan dari istri?
Ternyata alasannya ada pada posisi suami sebagai tulang punggung keluarga. Jika ambil cuti demi bantu istri urus si kecil, pemasukan si suami bisa lebih kecil. Walaupun ada kompensasi, para istri tetap ingin bonus besar yang diterima jika suami masuk terus kerja.
Sebanyak 72,4% istri merasa si suami lebih cocok tetap kerja daripada ambil cuti demi anak. Hasil survey ini cukup kuat karena hasil dari 1.712 narasumber.
Rasa takut masalah pendapatan keluarga tidak terpenuhi karena suami tidak kerja masih tinggi di Jepang. Para istri lebih memilih lelah mengurus rumah dan anak daripada kehilangan waktu bekerja suami.
Dari hasil survey tersebut, ditemukan juga semakin tinggi pendapatan yang dibutuhkan keluarga setiap tahunnya. Hasilnya, hanya keluarga dengan pendapatan di atas rata-rata saja yang lebih terbuka terhadap ide cuti untuk merawat si kecil.
Hal lain yang unik adalah para istri yang ingin suami cuti merawat anak rata-rata memiliki anak umur balita. Jadi, semakin besar umur anak, makin kecil istri ingin suami cuti dalam perawatannya.
Pemerintah sebenarnya sudah permudah cuti untuk urus anak di Jepang. Baik suami maupun istri bisa mengambil cuti ini. Peranan mengurus anak yang lebih mudah diharapkan mendorong kalangan muda Jepang mau berkeluarga.
Nyatanya, implementasi tersebut belum sesuai kebutuhan. Para istri bahkan tidak ingin dibantu suami urus anak jika sampai harus cuti. Para istri masih memandang masalah pendapatan keluarga lebih urgent daripada tenaga sendiri urus bayi.
Menurut kamu bagaimana, bagaimana hasil survey istri Jepang tidak suka suami ambil cuti ini ke masyarakat Jepang? Apakah ada insentif lain yang harusnya ditawarkan?
Kredit Gambar: mrhayata/Flickr





