🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Angka Bunuh Diri di Jepang Menurun Akibat Perbaikan Budaya Kerja, Makin Menarik Nih Kerja ke Jepang!

Angka Bunuh Diri di Jepang Menurun Akibat Perbaikan Budaya Kerja, Makin Menarik Nih Kerja ke Jepang!

Berita angka bunuh diri di Jepang menurun muncul dari data resmi Ministry of Health, Labour and Welfare Japan yang dihimpun bersama National Police Agency Japan (NPA).

Berdasarkan pengumuman terbaru, jumlah kasus bunuh diri sepanjang 2025 tercatat 19.097 orang, turun sekitar 1.223 kasus atau hampir 6% dibanding 2024.

Yang membuat data ini makin mencengangkan, ini adalah pertama kalinya sejak pencatatan resmi dimulai tahun 1978 angka bunuh diri tahunan Jepang berada di bawah 20.000 kasus. Bahkan tingkat bunuh diri nasional kini turun menjadi 15,4 per 100.000 penduduk, terendah sepanjang sejarah statistik modern Jepang.

Menariknya, penurunan paling signifikan terjadi pada kelompok usia produktif — khususnya usia 40-an (2.951 kasus) dan usia 50-an (3.732 kasus) yang selama ini dikenal sebagai kelompok dengan tekanan kerja tertinggi. Hampir semua kelompok usia dewasa mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan pengamatan para ahli, ada kemungkinan besar akibat perbaikan kondisi kerja di Jepang. Perbaikan kondisi kerja ini terbukti dengan mudahnya mengambil cuti hamil, mengurus izin dan bahkan mengatur jam kerja.

Sejak pandemi, banyak reformasi soal kondisi kerja Jepang berubah drastis. Bahkan budaya perusahaan Jepang banyak yang bergeser. Trend reformasi jam lembur, peningkatan cuti, sistem kerja fleksibel, hingga fokus perusahaan pada kesehatan mental karyawan mulai menyebar.

Sepertinya generasi pekerja Gen Z Jepang mendorong kuat perubahan ini. Mereka bahkan yang membuat trend jasa mengundurkan diri kerja. Jadinya, pekerja Gen Z sekarang lebih mudah pindah kerja.

Selain itu masalah kesehatan juga membaik. Mulai berkurang pekerja sampai sakit dan tertekan. Faktor pengelolaan stress di ranah kerja sepertinya membaik. Terbukti dengan faktor pemicu bunuh diri akibat kesehatan turun 736 kasus (sekitar 6,1%).

Sayangnya, tidak semua merupakan kabar baik. Ada satu catatan serius dalam data yaitu angka bunuh diri pelajar SD–SMA justru naik menjadi 532 kasus. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang pernah dicatat selama dua tahun berturut-turut. Pemerintah Jepang pun merespons dengan merevisi undang-undang pencegahan bunuh diri untuk memperkuat peran sekolah dan layanan kesehatan mental anak.

Ini akan menjadi PR pihak Jepang untuk memastikan golongan muda di sana bisa hidup lebih nyaman dan bebas masalah bunuh diri. Percuma jika golongan produktif bisa membaik tapi kondisi anak-anak Jepang malah lebih tertekan.

Bagi WNI, Tren angka bunuh diri di Jepang menurun menunjukkan bahwa budaya kerja ekstrem perlahan berubah. Meski stress kerja di Jepang dulu identik dengan lembur brutal, kini banyak perusahaan mulai beralih ke sistem yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Bagi kamu yang tertarik kerja ke Jepang, kondisi ini jadi sinyal positif untuk kerja di sana. Gak perlu lagi takut soal lingkungan kerja yang terlalu keras dan masalah eksploitasi. Selama mengikuti aturan, kamu harusnya nyaman kerja di Jepang.

Jepang bukan lagi sekadar negara kerja keras tanpa batas bagi para pekerja, tapi sedang berubah menuju budaya kerja yang lebih positif. Positif di sini bukan menjadi lembek, tapi lebih tertata agar tidak memberatkan pihak pekerja.

Kalau tren ini terus berlanjut, bukan cuma ekonomi Jepang yang membaik, tetapi kualitas hidup para pekerjanya juga ikut naik. Perbaikan kondisi hidup inilah yang nantinya membuka Jepang untuk hidup berkeluarga. Pada akhirnya, kalau kondisi hidup nyaman untuk keluarga, urusan mortalitas di Jepang bisa terselesaikan!

Kredit Gambar: /Flickr