🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Apakah Benar Kerja di Jepang Jangka Panjang Itu Sulit? Berikut Faktanya di Lapangan!

Apakah Benar Kerja di Jepang Jangka Panjang Itu Sulit? Berikut Faktanya di Lapangan!

Kerja di Jepang jangka panjang menjadi impian banyak orang Indonesia. Gajinya di Jepang jauh lebih tinggi dibanding pekerjaan yang sama di Indonesia. Selain itu, di Jepang kesempatan kerja terus terbuka, dan kebutuhan tenaga kerja di Jepang semakin besar dari tahun ke tahun.

Walau begitu, banyak WNI yang berhasil bekerja bertahun-tahun di Jepang tidak meneruskan job di sana! Mereka awalnya sudah berpindah dari program magang ke visa kerja yang memastikan masa kontrak lebih panjang. Namun, mengapa mereka tetap memilih pulang ke Indonesia?

Jepang Sebagai Tujuan Kerja Bukan untuk Tinggal Lama

Jepang memang semakin bergantung pada tenaga kerja asing. Hingga akhir 2025, jumlah warga negara asing yang tinggal di Jepang mencapai 4,12 juta orang, sementara jumlah pekerja asing juga terus mencetak rekor baru di berbagai sektor industri. Program seperti Specified Skilled Worker (SSW) bahkan terus diperluas untuk menjawab kekurangan tenaga kerja.

Kondisi ini membuat peluang WNI bekerja di Jepang semakin besar. Jalur masuknya pun beragam, mulai dari visa pelajar, program pelatihan kerja atau magang, SSW, hingga visa kerja profesional.

Namun berbeda dengan proses mencari pekerjaan, perjalanan untuk tinggal dalam jangka panjang jauh lebih rumit. Contoh saja untuk mendapatkan Permanent Residence di Jepang, seseorang harus memenuhi berbagai persyaratan, seperti masa tinggal yang cukup lama, riwayat pembayaran pajak dan pensiun yang baik, serta catatan keimigrasian yang bersih.

Bahkan pemerintah Jepang juga mulai menaikkan berbagai biaya administrasi izin tinggal sejak 2025, dan kembali mengusulkan kenaikan yang lebih besar untuk beberapa layanan keimigrasian pada 2026. Ini tanda Jepang membuat birokrasi tinggal lama di sana lebih sulit.

Tinggal Lebih Lama di Jepang Artinya Tantangan Juga Bertambah

Banyak pekerja Indonesia memulai karier melalui SSW Type 1 (sering disebut TG1). Namun status ini hanya dapat digunakan hingga lima tahun. Jika ingin tetap bekerja lebih lama, pekerja harus lulus ujian menuju SSW Type 2 (disebut juga TG2) yang memiliki standar kemampuan lebih tinggi dan hanya tersedia pada bidang pekerjaan tertentu.

Di sisi lain, pemerintah Jepang mencatat terdapat sekitar 947 ribu warga asing yang telah berstatus permanent resident hingga akhir 2025. Jumlah tersebut tentu jauh lebih kecil dibanding keseluruhan populasi warga asing yang sudah diterima kerja di Jepang dengan durasi bertahun tahun. Artinya, tidak semua orang yang memenuhi syarat kerja di Jepang akhirnya memilih menetap.

Gaji Tinggi Belum Tentu Menjadi Alasan untuk Menetap

Mereka yang tidak menetap umumnya rela melepaskan kesuksesan kerja di Jepang. Gak percaya? Kamu coba hitung dan bandingkan saja status pekerja WNI di Jepang yang blue-collar.

Pekerja blue collar di Jepang umumnya memperoleh sekitar ¥180.000 hingga ¥250.000 per bulan, atau sekitar 20–28 juta Rupiah tergantung kurs dan potongan. Sementara pekerjaan blue collar serupa di Indonesia rata-rata masih berada di kisaran Rp3–5 juta per bulan. Selisihnya bisa mencapai empat hingga enam kali lipat.

Bayangin! Orang Indonesia rela lepas gaji empat sampai enam kalilipat hanya untuk kembali ke negara asal. Berarti, aturan kerja Jepang dan birokrasi yang membatasi menetap lama menjadi barrier tersendiri.

Dari sinilah, banyak WNI yang menganggap Jepang sebagai negara tujuan kerja daripada negara tujuan untuk imigrasi. Sekarang makin banyak pekerja Indonesia yang sejak awal memang datang dengan tujuan mencari modal saja dan icip-icip tinggal di Jepang. Setelah target keuangan tercapai, mereka memilih kembali dekat dengan keluarga, membangun usaha, atau memulai kehidupan baru di Indonesia.

Tabungan yang sudah gendut dari kerja di Jepang bertahun-tahun, tetap bisa membuka peluang sukses di Indonesia. Walaupun tidak perlu kerja job yang sama, banyak WNI yang sukses kerja di Jepang merasakan hidup yang nyaman dari hasil kumpulkan modal.

Karena itulah, kerja di Jepang jangka panjang bagi banyak WNI hanya diukur beberapa tahun. Bukan untuk menetap selamanya di Jepang. Kesempatan kerja di Jepang lebih dipandang sebagai jalur membangun masa depan melalui penghasilan yang lebih baik, bukan sebagai langkah untuk menetap selamanya di Jepang.

Kredit Gambar: Catarina Duarte/Unsplash