🌐

PT Saitama Juara Mendunia

Apa Aja Sosial Media Favorit Orang Jepang? Ternyata Beda dengan Indonesia!

Apa Aja Sosial Media Favorit Orang Jepang? Ternyata Beda dengan Indonesia!

Kalau membahas sosial media favorit orang Jepang, mungkin kamu langsung menebak Instagram, TikTok, atau X. Tebakan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi ada satu aplikasi yang justru jauh lebih kuat di Jepang, yaitu LINE.

Hal ini menarik untuk diketahui, terutama buat kamu yang berencana tinggal atau bekerja di Jepang. Cara orang Jepang menggunakan sosial media ternyata punya beberapa perbedaan dengan kebiasaan kita di Indonesia.

LINE Jadi Aplikasi Komunikasi Utama

Kalau di Indonesia WhatsApp menjadi aplikasi yang hampir selalu ada di HP, Jepang punya LINE. Berdasarkan data Kementerian Internal dan Komunikasi Jepang tahun 2025, LINE digunakan oleh sekitar 92,9% responden. YouTube juga sangat tinggi dengan angka 81,5%, kemudian Instagram 54,8%, X 44,7%, dan TikTok 36,7%. Sementara itu, Facebook berada di 27%.

Jadi, jangan kaget kalau nanti punya teman atau rekan kerja orang Jepang, mereka lebih sering meminta akun LINE daripada nomor WhatsApp.

LINE bukan cuma digunakan untuk mengirim pesan. Aplikasi ini sudah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari masyarakat Jepang, mulai dari menghubungi keluarga dan teman sampai berinteraksi dengan berbagai layanan.

Inilah salah satu contoh peran sosial media di kehidupan Jepang yang cukup berbeda dengan Indonesia.

X, Instagram, dan TikTok Juga Punya Banyak Pengguna

Lalu bagaimana dengan X? Ternyata orang Jepang banyak gunakan X.com, terutama untuk mengikuti berita, tren, komentar publik, dan berbagai pembicaraan yang sedang ramai.

Data ICT総研 pada 2026 menunjukkan X digunakan oleh sekitar 45,4% pengguna internet dalam surveinya. Bisa dibilang X tergolong salah satu sosial media favorit orang Jepang juga!

Instagram juga punya posisi kuat, terutama bagi anak muda. Platform ini banyak digunakan untuk melihat foto, fashion, makanan, perjalanan, hingga mencari inspirasi tempat yang ingin dikunjungi.

TikTok juga tidak kalah menarik. Penggunanya memang lebih sedikit dibanding LINE dan YouTube jika melihat seluruh kelompok usia, tetapi TikTok memiliki proporsi pengguna muda yang cukup besar. Jadi kalau targetnya anak muda Jepang, platform ini tetap sangat menarik.

Sementara YouTube bisa dibilang sudah menjadi platform umum. Mau mencari hiburan, belajar sesuatu, melihat berita, atau sekadar menghabiskan waktu, YouTube punya tempat tersendiri dalam kebiasaan masyarakat Jepang.

Kenapa Facebook dan WhatsApp Tidak Sebesar di Indonesia?

Nah, bagian ini yang mungkin paling mengejutkan. Bukan berarti orang Jepang tidak menggunakan Facebook atau WhatsApp. Keduanya tetap memiliki pengguna. Namun, popularitasnya tidak sebesar LINE dan beberapa platform lain.

Salah satu alasannya sederhana. LINE sudah lebih dulu menjadi bagian kuat dari komunikasi sehari-hari di Jepang.

Kalau kebutuhan mengirim pesan kepada teman, keluarga, atau orang lain sudah terpenuhi lewat LINE, tidak ada alasan kuat bagi masyarakat untuk berpindah ke WhatsApp.

Facebook juga memiliki karakter pengguna yang berbeda. Data ICT総研 menunjukkan pengguna Facebook di Jepang cenderung memiliki usia lebih tua dibandingkan platform seperti TikTok dan Instagram.

Jadi, jangan membayangkan kebiasaan sosial media orang Jepang akan sama persis dengan Indonesia.

Jangan Salah Pilih Sosial Media Saat Tinggal di Jepang

Buat kamu yang akan bekerja atau belajar di Jepang, mengetahui sosial media favorit orang Jepang ternyata cukup berguna.

Misalnya, ketika ingin berkomunikasi dengan teman Jepang, LINE kemungkinan jauh lebih berguna daripada WhatsApp. Sementara untuk mencari informasi yang sedang ramai, X bisa menjadi tempat yang menarik.

Kalau ingin mencari rekomendasi makanan, tempat wisata, fashion, atau aktivitas anak muda, Instagram dan TikTok juga bisa membantu.

Artinya, sosial media di Jepang bukan hanya tempat mencari hiburan. Platform yang berbeda bisa digunakan untuk kebutuhan yang berbeda pula.

Jadi sebelum berangkat ke Jepang, tidak ada salahnya mulai mengenal aplikasi yang memang banyak digunakan masyarakat di sana. Bila memahami sosial media favorit orang Jepang, kamu juga bisa lebih mudah beradaptasi dengan cara orang Jepang berkomunikasi dan mencari informasi sehari-hari.

Kredit Gambar: /Flickr

Tahukah Kamu Daerah Kelahiran Tertinggi di Jepang? Mari Mengenal Daerah Tokunoshima!

Tahukah Kamu Daerah Kelahiran Tertinggi di Jepang? Mari Mengenal Daerah Tokunoshima!

Banyak orang membayangkan semua daerah Jepang memiliki angka kelahiran negatif. Hal ini tidak benar! Mari melihat Tokunoshima yang sekarang dikenal sebagai daerah kelahiran tertinggi di Jepang!

Statistik Kelahiran di Tokunoshima Terlihat Sangat Positif

Saat banyak orang merasa Jepang tidak bisa menghasilkan banyak bayi, angka Tokunoshima membantah hal tersebut. Walaupun berada di pulau kecil jauh dari pusat Jepang, tempat ini mampu tumbuh mandiri dan bahkan terus mendorong angka kelahiran di Jepang.

Bagi yang tidak tahu, Tokunoshima adalah pulau di area Selatan Jepang. Ukuran pulaunya tidak terlalu besar juga, hanya sekitar 247,77 kilometer persegi. Walaupun tergolong berlokasi di pelosok Jepang, tempat ini bisa menjadi panutan daerah lain karena sukses memiliki angka kelahiran positif.

Dibandingkan tempat lainnya, Tokunoshima terlihat tidak menonjol, tetapi mereka bisa capai nilai Total Fertility Rate (TFR) 2,25. Angka kelahiran ini adalah yang tertinggi di Jepang dan mereka patut bangga soal pencapaian tersebut.

Apa yang Sebabkan Angka Kelahiran di Tokunoshima Bisa Tinggi?

Apa yang sebabkan angka kelahiran Takunoshima bisa tinggi? Di antara kamu pasti ada yang bertanya-tanya soal ini. Dari beberapa penyelidikan, ternyata pembeda utama adalah budaya yang berlaku di Tokunoshima sangat jauh dari standar hidup dipusat Jepang.

Tokunoshima terkenal sebagai tempat yang tenang dan tidak terlalu sibuk. Standar di sini berbeda jauh dengan hiruk pikuk mengejar materi seperti di Tokyo. Pekerjaan utama di sini hanya hal-hal tradisional seperti menjadi nelayan dan petani tebu.

Walaupun pekerjaan tidak kelas elit seperti di pusat Jepang, aspek ini tetap dihargai oleh masyarakat sana. Karena bekerja tradisional, mereka merasa tuntutan pekerjaan tidak terlalu mengekang seperti di kantoran Jepang.

Pekerjaan tradisional juga membantu masyarakat di sini untuk hidup lebih sosial dan fokus pada keluarga. Hal inilah yang mendorong satu rumah tangga bisa memiliki 3 sampai 6 orang anak.

Di lingkungan Takunoshima, pandangan menikah dan punya anak adalah beban belum muncul. Mereka masih memandang punya anak banyak adalah anugerah. Mendidik dan mengurus anak hingga besar adalah kebanggaan tersendiri bagi orang tua di Takunoshima.

Hasilnya, kebanyakan anak di Takunoshima bisa hidup lebih nyaman dan tidak tertetakan akan tuntutan prestasi ataupun target sekolah tertentu. Kebanyakan anak di sini lebih fokus diberi pelajaran soal skill kehidupan.

Para anak-anak ini juga diajarkan bagaimana nantinya menggantikan peran pekerjaan orang tua sebagai nelayan ataupun petani tebu. Maka dari itu, interaksi orang tua anak di sini masih kuat dibandingkan daerah perkotaan Jepang.

Faktor lain yang membuat Takunoshima mampu hasilkan angka kelahiran bayi di Jepang tertinggi adalah kondisi komunitas yang masih dekat. Berbeda dengan kehidupan kota yang sering individualistik, warga di Takunoshima terasa seperti keluarga besar.

Tetangga masih sering berkunjung dan membantu satu sama lain. Misal saja saat ada keluarga yang akan melahirkan, para tetangga pasti mau membantu menjaga si bayi sambil sang ibu recovery. Hal ini membantu suami yang jadinya bisa fokus kerja tanpa takut si bayi dan sang ibu tidak ada yang jaga.

Budaya Takunoshima juga lebih terbuka akan relasi. Saat ada yang hamil di luar nikah, mereka tetap terima kondisi ini dengan baik. Nanti, pasangan yang memiliki anak di luar nikah ini akan segera dinikahkan dan dibantu menjadi keluarga baru.

Sekalipun nantinya cerai, masyarakat Takunoshima tetap menerima kondisi mereka dengan positif. Relasi seperti ini tidak meninggalkan stigma dan aib bagi para pasangan. Hasilnya, kehidupan sosial di Takunoshima lebih harmonis dibandingkan tempat lain di Jepang.

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Situasi Demografi di Tokunoshima

Untuk atasi krisis tenaga kerja di Jepang, banyak pelajaran harus diambil dari kehidupan di Takunoshima. Pelajaran yang paling utama adalah membuat kondisi sosial yang ramah terhadap keluarga dan bayi.

Kehidupan Takunoshima berpusat pada kesejahteraan bersama dan kedekatan sosial. Hal ini hanya akan terjadi jika perspektif kehidupan tidak sekedar mengejar materi. Di perkotaan Jepang, semua lebih hidup individu dan memandang relasi sebagai transaksi bisnis. Hal ini membuat kondisi sosial lebih berat materi.

Kebanyakan orang kota Jepang tidak mau keluar rumah atau bahkan saling hubungan dengan tetangga jika tidak karena kewajiban tertentu. Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan Takunoshima yang lebih fokus soal kebersamaan.

Jika pemerintah bisa buat kondisi sosial yang tidak berbasis materi dan lebih pada kedekatan sosial yang nyaman bagi semua pihak, dijamin angka kelahiran Jepang bisa naik tinggi.

Sementara Jepang memperbaiki kondisi kelahiran di sana. WNI banyak yang antusias mengisi lapangan kerja. Kamu juga mau kerja ke Jepang kah?

Kredit Gambar: Wikipedia